Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2026

SEMIOTIKA KEHANCURANSalman fastabiqul khairat ft. Yarana dwiazka

*L : Jengah ku mengurai satu persatu hati yang tak mampu bicara* P : Apa gunanya membuka, jika sebelum bicara bibir sudah dibungkam disuruh diam *L : Bangun tidur ku menangis hinaan dan dipaksa untuk baik-baik saja* P : Aku tidak baik-baik saja, buta kah matamu hingga tak melihat sayapku patah ? *L : Dari mulai rumah yang tak lagi ramah* P : Aku hanya ingin pulang mah... *L : Lingkungan apatis yang mengharuskan ku mengungsi di jembatan kumuh yang bertajuk gundah* P : Mengapa aku selalu gelisah ? kau pikir ini mauku, hah ?? *L : Mengapa yang kuharap baik selalu berbanding terbalik ?* P : Memangnya pernah takdir bicara baik-baik ? *L : Mengapa Orang-orang menolak sadar ketika aku jelas-jelas jatuh terkapar* P : karena yang harus dikhawatirkan semesta hanya lukamu saja *L : Sekian tahun ku pelihara nafas untuk bisa ku nikmati, tapi mengapa diam-diam angkara takdir seolah menuntut ku untuk segera mati* P : Mati sajalah !!! *L : Terkutuk Lah diri bila ku hanya ingin menjadi diri sendiri* P ...

Lipstik

Suatu malam aku jatuh cinta kepada seorang penyanyi bar. Aku tak tahu mengapa aku begitu mudah jatuh cinta. Masalahku sehari-hari adalah masalah pekerjaan. Setiap hari aku bergulat untuk mencari makan. Setiap hari aku berusaha untuk tetap hidup dan tidak mati kelaparan. Setidaknya aku selalu berusaha untuk tidak menjadi pengemis. Tidak hidup dari belas kasihan orang lain. Selama ini, wanita bagiku hanya seperti segelas air putih. Sekedar menghilangkan haus, tanpa meninggalkan kesan khusus. Itulah sebabnya, peristiwa jatuh cinta itu menjadi kejutan dalm hidupku. Aku hanyalah seorang perantau kecil yang selalu kesepian. Satu diantara beribu-ribu perantau yang setiap hari berduyun-duyun ke Ibukota mencari pekerjaan. Aku tak tahu, menagapa banyak orang merasa harus mencari pekerjaan di Ibukota.  Apakah dikota lain atau dikotanya sendiri, tidak ada lapangan pekerjaan? Bahkan, di Ibukota pun aku melihat banyak orang menganggur. Aku hanyalah seorang perantau kecil yang terpukau oleh gemer...

AKU MENCINTAIMU, KETIKA; Kotagu, Majalengka

 AKU MENCINTAIMU, KETIKA; Aku mencintaimu, ketika; Lumbung-lumbung padi dipenuhi bangkai tikus, Ketika ladang dan pematang  gelanggang banting-tulang hilang, menjadi sengketa dalih renovasi. Ketika sekepal nasi kehilangan karbohidrat, Bening mata air diselami potas. Aku mencintaimu, ketika; Ribuan Ibu rela ditinggal anak merantau jauh ke jantung kota demi sekepal upah, Ketika gelar dan ijazah menjadi bungkus gorengan jajanan tepi jalan, Ketika tukang becak kehilangan sewa,  terungku dipenuhi para mangsa terka dan kira. Aku mencintaimu, ketika; Kopi, teh, dan arak setara dalam keramaian Ketika berpeluk moksa di muka raya tanpa peduli sekitar menjadi aib yang wajar Ketika mengobrol dengan pelacur dianggap lacur Sedang kumpul kerbau telah masyhur Aku mencintaimu, ketika; Gugu dan tiru mulai jatuh Ketika bocah Smp belajar meremas payudara Ketika murid berani aniaya gurunya Ketika sekolah menjadi gelanggang adu harta adu rupa, dan adu kuasa. Aku mencintaimu, ketika; Berbicara ...

Fragmen Sunyi Di Dadaku

Ada noktah darimu yang menempel di tumitku seperti bayangan tak bisa kutinggal tak bisa kupadamkan terus mengikuti langkahku dengan sengaja Ingatan suara langkahmu masih berkeliaran di antara lipatan memoriku mengacaukan napas masuk begitu saja lalu duduk di meja kenangan mengaduk-aduk isi dadaku seperti seseorang seperti penyihir tua yang telaten meramu kegilaan Dalam sunyi yang tidak memilih waktu, aku melihat lagi; bayangan tubuhmu di pintu, dan di detik-detik yang patah itu kau membelai rambutmu mengerling kecil memberi isyarat yang dulu kupikir akan abadi Namun kau menjelma memori yang tidak mati, menjadi cakar, menjadi bayang, menjadi suara retak serupa tumpukan fragmen sunyi yang usang di kepalaku membuatku mengingat tanpa ingin membuatku lupa tanpa bisa Tuan, dunia terasa pelan setelah kau pergi dan aku tidak tahu bagaimana mengubur sesuatu yang masih hidup di kepalaku meski sudah musnah di dunia nyata Lantas aku memilih hidup sebagai arsip yang salah dibaca waktu, dan jika aku...

Naskah dialog Merindukan anak Karya: aditya wahyu kurniawan & Dilla

 Telpon berdering  Ayah: Nak, bagaimana  kabarmu  hari ini? ( Gimik batuk batuk ) Anak: Alhamdulillah baik ayah.. Kalo ayah gimana kabarnya? Ayah:  Ayah  baik baik saja nak. Lalu bagaimana dengan kabar cucuku dan istri kamu di sana nak,  Anak : mereka semuanya baik baik saja ko yah , Ayah :  syukurlah kalau begitu Nak, Oia nak rencana kamu kapan mau  pulang? Anak : aku tidak tau ayah emang nya kenapa yah ? Ayah :  Nggak apa apa nak ayah cuma tanya saja  Anak : ayah sepertinya hari ini terlihat murung ada apa yah, ada yang menggangu pikiran ayah kah ? Ayah : Nggak kerasa ya nak, sebentar lagi ternyata sudah mau bulan puasa  Apa kamu nggak ada rencana buat pulang dulu ke rumah ? Anak: ( menghela napas )  aku pengen sih yah, tapi ? Ayah : nggak bisa ya nak? Anak : hufffh, kebetulan aku Di sini masih banyak kerjaan yah😢, setap hari aku selalu  pulang larut malam karena lembur  Ayah : ayah mengerti nak,  Anak...