Fragmen Sunyi Di Dadaku



Ada noktah darimu
yang menempel di tumitku seperti bayangan
tak bisa kutinggal
tak bisa kupadamkan
terus mengikuti langkahku dengan sengaja

Ingatan suara langkahmu
masih berkeliaran di antara lipatan memoriku
mengacaukan napas
masuk begitu saja lalu duduk di meja kenangan
mengaduk-aduk isi dadaku
seperti seseorang seperti penyihir tua
yang telaten meramu kegilaan

Dalam sunyi yang tidak memilih waktu,
aku melihat lagi;
bayangan tubuhmu di pintu,
dan di detik-detik yang patah itu kau membelai rambutmu
mengerling kecil
memberi isyarat yang dulu kupikir akan abadi

Namun kau menjelma memori
yang tidak mati,
menjadi cakar,
menjadi bayang,
menjadi suara retak
serupa tumpukan fragmen sunyi yang usang di kepalaku
membuatku mengingat tanpa ingin
membuatku lupa tanpa bisa

Tuan, dunia terasa pelan setelah kau pergi
dan aku tidak tahu bagaimana mengubur sesuatu yang masih hidup di kepalaku
meski sudah musnah di dunia nyata

Lantas aku memilih hidup sebagai arsip yang salah dibaca waktu, dan jika aku mati, aku akan mati sebagai puisi yang tidak utuh sebab namamu lebih membatu daripada memori yang membeku.

Manto Hago
Bumiullah, 20 November 2025

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DARI AKU YANG HAMPIR MENYERAH

izinkan aku bahagia Karya Pengagum

Kamu Tidak Harus Menjadi Seseorang