Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2026

KETINDIHAN

Nara: ka... aku lagi nggak baik-baik aja boleh… ceritain sesuatu yang lucu nggak apa aja… aku capek nangis Arka: aku ceritain yang paling bodoh yang pernah aku alami ya dan entah kenapa malah jadi pelajaran hidup Nara: iya… aku dengerin Arka: jadi waktu itu aku ketindihan bener-bener nggak bisa gerak sama sekali tubuh kaku, napas berat, suara nggak keluar kayak ada yang nahan dari atas awalnya aku mikir “ah paling adikku lagi iseng naik ke punggungku” soalnya rasanya berat banget, pas di badan kayak ditindih manusia beneran Nara: terus? Arka: nah… anehnya di saat aku lagi panik gitu aku denger suara kresek-kresek adikku lagi ngemil… di depan tv Nara: hah? jadi bukan dia? Arka: nah itu dia aku mulai mikir… “lah terus ini siapa yang lagi numpang di badanku?” tapi aku masih denial aku berharap dia bakal ke kamar dan bangunin aku Nara: terus dia dateng? Arka: nggak… yang dateng malah gofood tiba-tiba dari luar ada suara “paket gofood!” dan adikku bukannya nolongin aku dia malah santai ke d...

Seperti Angin pada Daun

Adapun tulisan ini tiadalah lahir dari kegaduhan kata, melainkan dari getar halus yang bersemi seperti embun yang jatuh di kelopak pagi nan suci. Maka kusebut engkau, dengan cara yang paling teduh, sebagai cahaya yang tak menyilaukan, namun cukup untuk membuat hati ini enggan kembali gelap seperti sediakala. Ialah kau ibarat taman yang dipagari sunyi, harumnya tiada berteriak, namun diam-diam menetap di setiap hela napas yang ku hirup. Dan aku tiada lebih dari pengelana lelah, yang akhirnya menemukan teduh pada satu nama yang bahkan tak berani kusebut lantang. Telah kusembunyikan engkau dalam doa yang kubisikkan lirih, bukan untuk dijauhkan, melainkan agar tetap dekat tanpa harus takut kehilangan. Jika kasih adalah bahasa purba yang hanya dimengerti oleh jiwa-jiwa yang sabar, maka izinkan aku mengejanya perlahan, melalui rindu yang tidak memaksa, melalui harap yang tidak mendesak. Tiada janji yang aku ucapkan berlebih, kecuali satu keinginan sederhana, menjadi tempat pulangmu yang pali...

Katakan Padanya

Katakan padanya Angin… Katakan padanya,Nafa Urbach. Aku merindunya. Rindu dan cinta yang tak ingin berpisah. Rindu lekuk tubuhnya. Tikungan terjal  tempat di mana aku terperosok jatuh dan mencintainya. Angin… Katakan padanya,Dian Sastro. Bermalam lah di dadaku malam ini. Agar semakin tahu,dalam degup jantungku selalu menyebut nyebut namanya. Dan Telah kugemakan jutaan sajak dari timur hingga ke barat. Berisi tentang pesan pesan rindu padanya. Angin.. Katakan padanya,Agnes Mo, Rinduku padanya tak berbanding lurus dengan kuadrat jarak. tetapi dengan kuadrat rasa. Dan rasa ini tak muncul begitu saja dengan seketika. Ia datang bersama angin. Membawa serta bunga bunga cinta. Yang menghiasi sampan rinduku. Angin.. Katakan padanya, lihatlah,fajar hampir menguning di linangan ufuk timur. Katakan padanya. biar lapang biar hilang segala gundah. sebelum siang tiba. Sebelum kokok ayam mencuri impian. Tangerang 11-6-2026 Katakan padanya  Ditulis kopi tumpah

Di balik RN pantai Timur

Di balik riuh RM Pantai Timur, di sela uap dapur yang menyengat, Awalnya kupanggil kau Tante, dengan hormat yang amat sangat. Kau koki yang cekatan, meracik bumbu dengan penuh wibawa, Membuatku segan, menatap sosokmu yang tangguh menjaga jiwa. Namun seiring waktu, saat pesanan tak lagi menderu kencang, Sekat itu perlahan runtuh, rasa kagum mulai datang menjelang. Panggilan itu berubah menjadi Kakak, terasa lebih hangat di hati, Melihatmu tersenyum di balik celemek, membuatku ingin lebih mengerti. Statusmu sebagai janda adalah bukti kau wanita yang mandiri, Tak butuh sandaran semu untuk tetap tegak berdiri sendiri. Tapi di sela bumbu dan kuali, kutemukan sisi lembut yang tersembunyi, Sisi yang membuatku ingin menjagamu, hari demi hari. Kini, tak ada lagi sekat, tak ada lagi panggilan yang jauh, Di RM Pantai Timur ini, hatiku telah menemukan tempat berlabuh. Kupanggil kau Sayang, saat kau lelah usai berperang dengan api, Sebab bagiku, kaulah bumbu terindah yang melengkapi hidupku ini. Ta...

_Rubaiyat Cinta_

Pada rentang jarak yang tak beradu. Dibulan yang purnama. Pernah begitu banyak bahasa cinta yang kuterbangkan dalam kisi kisi dindingnya. Begitu banyak. Mungkin serupa kalimat yang sudah sudah. yang pernah dititipkan pada jendela lampau. sebagai rubaiyat sunyi. Sebagai huruf huruf yang tersayat,gagu bagai batu Kekasih.. Bukan maksudku mewartakan kenangan kepenjuru semesta. Bukan maksudku. Namun rindu terus saja berteriak menggemakan cinta. Kekasih.. Bukan angin.. Bukan pula udara.. Namun rindu jua lah yang meminangku Menyebut nyebut namamu. Aku tak berdaya menahan kini. Laku lidahku mengeluh,,duh Sepenggal harapan telah runtuh. menyerah dititik pasrah. Tak mampu lagi memungut kata demi kata. Maujud maknanya -- kini hilang dilangit langit pikiran. Tangerang 24 mei 2025 Rubaiyat Cinta Ditulis Kopi Tumpah.

Panggung yang Kehilangan Nyawa

Lampu sorot itu masih di sana, kaku menatap lantai Menunggu langkahmu yang biasanya datang membawa badai Namun malam ini, hanya debu yang menari di bawah cahaya Tanpa ada senyummu yang membuat dunia merasa berharga. Dahulu, suaramu adalah kompas bagi keramaian Memandu emosi, memecah sepi dalam tiap pertemuan Kini mikrofon itu dingin, membeku dalam diam yang panjang Sebab sang pemilik suara telah memilih untuk pulang. Satu per satu kursi mulai terasa asing dan hampa Setiap sudut ruangan membisikkan namamu dengan hiba Kami terbiasa melihatmu menghidupkan suasana yang mati Kini, kamulah yang mematikan suasana dengan pergi tanpa janji. Engkau adalah narator bagi tawa dan tangis kami Menyusun kata-kata menjadi jembatan bagi hati ke hati Namun kini narasimu terhenti di titik yang tak terduga Meninggalkan kami yang masih ingin mendengar satu patah kata saja. Selamat tidur, pemandu yang takkan pernah terganti Panggung ini akan selalu merindukan detak jantungmu di sini Meski tirai telah tertutu...