Panggung yang Kehilangan Nyawa


Lampu sorot itu masih di sana, kaku menatap lantai
Menunggu langkahmu yang biasanya datang membawa badai
Namun malam ini, hanya debu yang menari di bawah cahaya
Tanpa ada senyummu yang membuat dunia merasa berharga.
Dahulu, suaramu adalah kompas bagi keramaian
Memandu emosi, memecah sepi dalam tiap pertemuan
Kini mikrofon itu dingin, membeku dalam diam yang panjang
Sebab sang pemilik suara telah memilih untuk pulang.
Satu per satu kursi mulai terasa asing dan hampa
Setiap sudut ruangan membisikkan namamu dengan hiba
Kami terbiasa melihatmu menghidupkan suasana yang mati
Kini, kamulah yang mematikan suasana dengan pergi tanpa janji.
Engkau adalah narator bagi tawa dan tangis kami
Menyusun kata-kata menjadi jembatan bagi hati ke hati
Namun kini narasimu terhenti di titik yang tak terduga
Meninggalkan kami yang masih ingin mendengar satu patah kata saja.
Selamat tidur, pemandu yang takkan pernah terganti
Panggung ini akan selalu merindukan detak jantungmu di sini
Meski tirai telah tertutup dan lampu telah padam seluruhnya
Gema tawamu akan tetap menghuni ruang-ruang di dada.
Istirahatlah dalam sunyi yang paling indah
Di tempat di mana tak ada lagi lelah dan resah

Manado 24 April 2026
Karya biliy/nofal

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DARI AKU YANG HAMPIR MENYERAH

izinkan aku bahagia Karya Pengagum

Kamu Tidak Harus Menjadi Seseorang