Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2026

Permisi... Apakah Hatinya Sudah Terisi? -Picolo-

Di sebuah kedai kopi kecil yang lebih sering dipenuhi hujan daripada pelanggan, dua orang asing dipertemukan oleh kebetulan yang sederhana. Arka, lelaki empat puluh tahun dengan hidup yang belum benar-benar mapan, dan Nara, perempuan tiga puluh tahun yang sedang berjuang menenangkan ribut di dalam kepalanya sendiri. Mereka bukan dua orang yang sempurna, hanya dua hati yang sama-sama lelah dan diam-diam ingin menemukan tempat pulang. Arka: Permisi… ini kursinya kosong? Nara: Kalau untuk orang biasa kosong, kalau untuk orang yang suka pinjam uang, penuh. Arka: Tenang... saya cuma pengangguran, belum sampai tahap kriminal. Nara: Oh, jadi kamu jujur sejak awal, benar-benar langka. Arka: Aku percaya hubungan yang sehat dimulai dari kejujuran dan sebuah hitam manis Nara: Wah... berarti hidupmu sangat sehat. Arka: Tentunya, heheh Nara: Aku Nara. Arka: Arka. Pengangguran profesional, spesialis menatap hujan sambil pura-pura filosofis. Nara: Aku Nara. Spesialis overthinking dan pura-pura baik-b...

DICINTAIMU MEMANG SECANDU ITU

Semenjak hari itu langit berubah menjadi abu Semua bagai tak berwarna Gelap_ Hitam_ Pekat_ Menyelimuti ke setiap langkah ku Seolah hati berkata_ Semua tidak akan baik-baik saja setelah hari itu Tubuh ini hidup tapi seakan mati rasa Hati ini ada tapi dia mati rasa Kini, kau hadir kembali membawa penawar rasa Kau memberi ku dosis yang tinggi hingga aku sembuh dan lupa akan hari itu Aku tidak tau harus di mulai dri mana atas keindahan yang aku rasakan ini Namamu, wajah mu dengan sopan masuk kedalam hati ku_ merobohkan dinding prasasti yg cukup kokoh aku bangun Kehadiranmu bak senja_ Hangat, menenangkan  Dan mengubah segalanya karna keindahannya Tatapan itu, senyuman itu_ sudah menjadi candu untuk ku sendiri Tatapan itu tidak pernah berpaling saat aku bercerita  Meski terkadang ada saja tingkah konyol mu yg kau selipkan di sela perbincangan kita  Yang membuat ku tertawa dan tersipu malu Kasih, trimakasih sudah meyakinkan ku kembali Yakin pada mu_ Yakin atas rasa yg kau tanam ...

Keenan — Pupuh Kinanti, Majalengka Gugur Malati

Keenan, peuting peteng ngadadak sepi, di sisi jalan Majalengka nu surti, lampu kota lir béntang turun ti pasir, nganteur rasa nu keur raheut ati Angin gunung Cireme ngusap pipi, mawa tiis nu nembus ka jajantung anjeunna nyangking carita ngabaliung nu maut na dada, teu puguh tungtung Jiga hinis awi bitung Di taman leutik sisi kota, Yuswa eureun bari ngagoda rasa, ningali malati nu gugur leuleus, bodasna lir kenangan nu meles Melati ragrag ka taneuh Majalengka nu reheut ku baluweng, Seungitna can leungit ku wengi, sanajan ragana geus nyorang pati. Kakasih ngahuleng dina bangku, nanya ka bentang nu ngalampu tugu, “naha sadaya nu kungsi éndah, kudu pegat, kudu pisah?” Wengi Majalengka ngajawab sepi, taya sora iwal haté sorangan nu nyeri, kinanti ngalagu dina kalbu, lir degung jauh ti lembur nu tabu. “Pileuleuyan, Keenan,” lir angin ti Talaga, “hirup téh saukur mampir di dunya,” nu datang moal salawasna aya, nu indit bakal balik ka asalna. Abdi nyekel malati gugur, leungeun ngageter, haté t...

Maaf, Aku Terlalu Berharap

        Aku tidak mengerti apa yang terjadi padaku. Pada kamu. Pada kita. Mengapa rasanya semua berjalan begitu cepat. Tiba-tiba saja Kamu sudah menyita seluruh isi pikiranku. Tiba-tiba saja hadirnya Kamu di sampingku selalu kuharapakan. Kita mulai dekat, bercanda, juga tertawa. Kamu membawa membawa perasaan lain di hatiku ketika aku menatap matamu, berbicara denganmu, Perasaan yang benar-benar membuatku nyaman, membuatku tidak ingin beranjak dari sisimu sedikitpun.                  Semua jadi terasa berbeda karena hadirnya kamu. Hitam dan putih yang biasanya mengisi hari-hariku terasa lebih berwarna, lebih hidup ketika kamu hadir untuk menggenapkan ruang-ruang kosong yang di selubungi kesepian di hatiku. Obrolan-obrolan ringan yang kita jalin terasa tidak lagi biasa, terasa begitu berharga bagiku. Perasaan ini tumbuh lebih cepat daripada yang kuduga.         Aku merasa susah karena perasaan ini. Sekuat...

Sore Dan Senja

Awalnya, kita bagaikan dua komet yang meluncur di angkasa raya, terpisah oleh jarak jutaan tahun cahaya.  Tak ada sapaan yang melintasi kehampaan, tak ada radar yang menangkap sinyal keberadaan. Kita adalah dua entitas yang asing, tak tertarik untuk saling mendekat, apalagi memahami. Namun, alam semesta memiliki caranya sendiri untuk menulis cerita yang tak terduga.   Kemudian, takdir mempertemukan kita dalam sebuah konstelasi digital.  Sebuah ruang obrolan sederhana yang menjadi titik awal dari perjalanan kosmik ini.  Obrolan yang mungkin dianggap remeh oleh para pengamat bintang, namun bagi kita, ia adalah wahana antariksa yang membawa kita mendekat, menjelajahi orbit masing-masing.  Kata-kata menjadi jembatan yang menghubungkan dua dunia yang berbeda, membuka tabir misteri yang selama ini tersembunyi.   Awalnya, kecanggungan adalah atmosfer tebal yang menyelimuti.  Pertemuan dua jiwa yang memiliki medan gravitasi yang berbeda.  Sore, dengan ene...

Sang Pelantun Cahaya di Balik Kata

Di tengah riuh rendah dunia Hago yang fana, Hadir sosok Myra, membawa diksi yang mempesona. Engkau bukan sekadar host yang menyapa lewat suara, Tapi penyair hati yang melukis rasa menjadi cahaya  Saat jemarimu membuka bait demi bait puisi, Suasana menjadi tenang, hilang segala bising dan emosi. Myra, namamu adalah nada dalam setiap sajak yang tercipta, Mengubah sepi di room menjadi ruang penuh cinta. Engkau tuntun kami menyelami samudera kata, Menghapus lara, membasuh letih yang kasat mata. Setiap rima yang kau ucap, setiap jeda yang kau beri, Adalah alasan bagi kami untuk tetap di sini, tak ingin pergi. Tetaplah bersinar, Myra, sang penjaga nada, Biarkan suaramu terus bertahta di dalam dada. Terima kasih atas segala dedikasi dan ketulusan, Engkaulah sang bintang, pembawa kehangatan di setiap pertemuan di Rom hps Manado 09-04-2026 Karya. Nofal/biliy