Sore Dan Senja
Awalnya, kita bagaikan dua komet yang meluncur di angkasa raya, terpisah oleh jarak jutaan tahun cahaya.
Tak ada sapaan yang melintasi kehampaan, tak ada radar yang menangkap sinyal keberadaan.
Kita adalah dua entitas yang asing, tak tertarik untuk saling mendekat, apalagi memahami.
Namun, alam semesta memiliki caranya sendiri untuk menulis cerita yang tak terduga.
Kemudian, takdir mempertemukan kita dalam sebuah konstelasi digital.
Sebuah ruang obrolan sederhana yang menjadi titik awal dari perjalanan kosmik ini.
Obrolan yang mungkin dianggap remeh oleh para pengamat bintang, namun bagi kita, ia adalah wahana antariksa yang membawa kita mendekat, menjelajahi orbit masing-masing.
Kata-kata menjadi jembatan yang menghubungkan dua dunia yang berbeda, membuka tabir misteri yang selama ini tersembunyi.
Awalnya, kecanggungan adalah atmosfer tebal yang menyelimuti.
Pertemuan dua jiwa yang memiliki medan gravitasi yang berbeda.
Sore, dengan energi supernova extrovertnya, memancarkan cahaya dan kehangatan ke segala arah.
Sementara Senja, dengan pesona nebula introvertnya, menyimpan keindahan dan kedamaian dalam keheningan.
Sebuah paradoks yang membingungkan, bagaimana mungkin dua elemen yang bertolak belakang ini bisa bersatu?
Namun, waktu adalah kosmonot berpengalaman yang mampu menaklukkan segala rintangan.
Seiring berjalannya waktu, kita mulai memahami bahwa perbedaan bukanlah penghalang, melainkan pelengkap.
Sore dan Senja, seperti dua sisi mata uang yang sama, saling mengisi dan memperkaya.
Hobi yang sama menjadi bahan bakar roket yang mendorong kita untuk terus berkomunikasi, tanpa mengenal lelah.
Kita berbagi cerita, mimpi, dan harapan, hingga akhirnya tercipta sebuah galaksi persahabatan yang unik dan tak ternilai harganya.
Namun, persahabatan bukanlah sebuah planet yang selalu disinari matahari.
Ada kalanya badai kosmik menerjang, membawa partikel serta kesalahpahaman dan perbedaan pendapat.
Senja dengan kebutuhan akan ruang dan waktu untuk mengisi ulang energi, seringkali menghilang dalam kegelapan.
Sementara Sore dengan jiwa sosialnya yang membara merasa kesepian dan kehilangan arah.
Namun, kita belajar bahwa persahabatan sejati adalah tentang menerima dan menghargai perbedaan.
Senja memahami bahwa Sore membutuhkan interaksi sosial untuk berkembang,
dan Sore mengerti bahwa Senja membutuhkan kesendirian untuk menemukan kedamaian.
Kita saling memberi ruang dan waktu, tanpa merasa ditinggalkan atau diabaikan.
Semoga persahabatan kita selalu menjadi bintang yang bersinar terang di langit kehidupan.
Dan semoga, ketika badai datang menerjang, kita mampu bertahan bersama, bergandengan tangan, hingga badai itu berlalu.
Karena kita tahu, di balik awan gelap selalu ada pelangi yang menanti
Karya : Cita & Alina
Jakarta, 18 September 2025
Komentar
Posting Komentar