Permisi... Apakah Hatinya Sudah Terisi? -Picolo-



Di sebuah kedai kopi kecil yang lebih sering dipenuhi hujan daripada pelanggan,
dua orang asing dipertemukan oleh kebetulan yang sederhana.
Arka, lelaki empat puluh tahun dengan hidup yang belum benar-benar mapan,
dan Nara, perempuan tiga puluh tahun yang sedang berjuang menenangkan ribut di dalam kepalanya sendiri.
Mereka bukan dua orang yang sempurna,
hanya dua hati yang sama-sama lelah
dan diam-diam ingin menemukan tempat pulang.

Arka:
Permisi… ini kursinya kosong?

Nara:
Kalau untuk orang biasa kosong, kalau untuk orang yang suka pinjam uang, penuh.

Arka:
Tenang... saya cuma pengangguran, belum sampai tahap kriminal.

Nara:
Oh, jadi kamu jujur sejak awal, benar-benar langka.

Arka:
Aku percaya hubungan yang sehat dimulai dari kejujuran dan sebuah hitam manis

Nara:
Wah... berarti hidupmu sangat sehat.

Arka:
Tentunya, heheh

Nara:
Aku Nara.

Arka:
Arka. Pengangguran profesional, spesialis menatap hujan sambil pura-pura filosofis.

Nara:
Aku Nara. Spesialis overthinking dan pura-pura baik-baik saja.

Arka:
Wah, cocok. Kita bisa buka praktik bersama.

Nara:
Nama praktiknya?

Arka:
“Dua Orang yang Tidak Tahu Masa Depan.”

Nara:
Tagline-nya?

Arka:
“Datang bingung, pulang tetap bingung.”

Nara:
Aku suka. Sangat realistis.

Arka:
Kamu sering ke sini?

Nara:
Kalau kepalaku terlalu ramai, iya.

Arka:
Dan hari ini?

Nara: 
Hari ini seperti pasar malam. Berisik.

Arka:
Kalau begitu, anggap aku tukang parkirnya. Tidak menyelesaikan masalah, tapi setidaknya menemani.

Nara:
Kamu selalu begini? Mengubah luka jadi lelucon?

Arka:
Kalau tidak begitu, mungkin aku sudah jadi puisi prosa yang menyedihkan

Nara:
Dan aku mungkin jadi pembacanya.

Arka:
Bahaya. Kalau kamu membaca terlalu dalam, nanti kamu tahu aku sebenarnya tertarik sama kamu

Nara:
Dan kalau aku bilang aku sudah curiga?

Arka:
Berarti instingmu bagus. Atau wajahku terlalu jujur.

Nara:
Mungkin matamu terlalu berisik.

Arka:
Biasanya orang bilang mataku teduh.

Nara:
Itu kalau mereka belum tahu isi rekeningmu, eh.

Arka:
Nara, kamu ini kejam tapi manis. Seperti kopi tanpa gula.

Nara:
Dan kamu seperti hujan sore. Datang tanpa izin, tapi sulit disuruh pergi.

Arka:
Jadi… boleh aku tetap tinggal?

Nara:
Tinggal di mana?

Arka:
Di harimu. Di cerita-ceritamu. Di bagian hidupmu yang sering kamu sembunyikan.

Nara:
Itu tempat yang berantakan.

Arka:
Aku juga berantakan. Jadi kita tidak akan saling menghakimi.

Nara:
Aku tidak selalu mudah dipahami.

Arka:
Aku juga tidak selalu mudah dibanggakan.

Nara:
Aku kadang terlalu diam.

Arka:
Aku kadang terlalu banyak bicara karena takut kehilangan.

Nara:
Aku takut orang pergi saat melihat sisi burukku.

Arka:
Aku takut tidak pernah cukup untuk membuat seseorang bertahan.

Nara:
Lalu kenapa masih mencoba?

Arka:
Karena sejak bertemu kamu, untuk pertama kalinya aku merasa ingin diperjuangkan juga.

Nara:
Kamu tahu? Itu kalimat paling jujur yang kamu ucapkan hari ini.

Arka:
Karena ini bagian paling seriusnya.

Nara:
Dan kalau aku bilang… aku juga lelah pura-pura kuat sendirian?

Arka:
Maka izinkan aku duduk di sebelahmu. Tidak harus menyelamatkan, cukup menemani.

Nara:
Dan kalau aku bilang aku takut jatuh cinta?

Arka:
Kita jatuh sama-sama. Jadi tidak terlalu sakit.

Nara:
Dan kalau aku bilang aku mungkin sudah jatuh?

Arka:
Aku akan pura-pura kaget, supaya terlihat seperti lelaki yang masih punya kontrol diri.

Nara:
Padahal?

Arka:
Padahal sejak kamu bilang namamu, aku sudah menyiapkan pidato pernikahan dalam kepala.

Nara:
Cepat sekali.

Arka:
Umur empat puluh tidak memberi banyak waktu untuk basa-basi.

Nara:
Jadi ini cara kamu menyatakan perasaan?

Arka:
Belum. Yang resmi begini,
Nara, aku tidak punya rumah mewah, mobil bagus, atau hidup yang mapan.
Tapi aku punya niat yang serius, hati yang keras kepala, dan keinginan untuk tetap tinggal.
Kalau kamu mau, mari kita jalani hidup yang berantakan ini bersama.

Nara:
Kamu sadar itu terdengar seperti lamaran murah meriah?

Arka:
Budget terbatas, perasaan luas. aseelole buka sitik jos

Nara:
hahaha Bodoh sekali

Arka:
Itu iya atau tidak?

Nara:
Itu… iya.
Tapi satu syarat.

Arka:
Apa aja.

Nara:
Jangan pergi saat aku sedang sulit dicintai.

Arka:
Kalau begitu, kamu juga jangan pergi saat aku sedang sulit menjadi lelaki yang sempurna.

Nara:
Deal.

Arka:
Deal.
Jadi sekarang kita apa?

Nara:
Dua orang aneh yang akhirnya memilih saling pulang.

Arka:
Romantis sekali.

Nara:
Belajar dari pengangguran profesional.


27 April 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DARI AKU YANG HAMPIR MENYERAH

izinkan aku bahagia Karya Pengagum

Kamu Tidak Harus Menjadi Seseorang