Seperti Angin pada Daun



Adapun tulisan ini tiadalah lahir dari kegaduhan kata, melainkan dari getar halus yang bersemi
seperti embun yang jatuh di kelopak pagi nan suci.

Maka kusebut engkau, dengan cara yang paling teduh, sebagai cahaya yang tak menyilaukan, namun cukup untuk membuat hati ini enggan kembali gelap seperti sediakala.

Ialah kau ibarat taman yang dipagari sunyi,
harumnya tiada berteriak, namun diam-diam menetap di setiap hela napas yang ku hirup.

Dan aku tiada lebih dari pengelana lelah, yang akhirnya menemukan teduh pada satu nama
yang bahkan tak berani kusebut lantang.

Telah kusembunyikan engkau dalam doa yang kubisikkan lirih, bukan untuk dijauhkan, melainkan agar tetap dekat tanpa harus takut kehilangan.

Jika kasih adalah bahasa purba yang hanya dimengerti oleh jiwa-jiwa yang sabar, maka izinkan aku mengejanya perlahan, melalui rindu yang tidak memaksa, melalui harap yang tidak mendesak.

Tiada janji yang aku ucapkan berlebih,
kecuali satu keinginan sederhana, menjadi tempat pulangmu yang paling tenang dan menjadi nama yang kau ingat dalam setiap lelah yang ingin reda.

Picolo. 7 mei 2026
—Tiada angin mengejar daun, namun selalu menemukan cara untuk menyentuhnya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DARI AKU YANG HAMPIR MENYERAH

izinkan aku bahagia Karya Pengagum

Kamu Tidak Harus Menjadi Seseorang