SEMIOTIKA KEHANCURANSalman fastabiqul khairat ft. Yarana dwiazka


*L : Jengah ku mengurai satu persatu hati yang tak mampu bicara*

P : Apa gunanya membuka, jika sebelum bicara bibir sudah dibungkam disuruh diam

*L : Bangun tidur ku menangis hinaan dan dipaksa untuk baik-baik saja*

P : Aku tidak baik-baik saja, buta kah matamu hingga tak melihat sayapku patah ?

*L : Dari mulai rumah yang tak lagi ramah*

P : Aku hanya ingin pulang mah...

*L : Lingkungan apatis yang mengharuskan ku mengungsi di jembatan kumuh yang bertajuk gundah*

P : Mengapa aku selalu gelisah ? kau pikir ini mauku, hah ??

*L : Mengapa yang kuharap baik selalu berbanding terbalik ?*

P : Memangnya pernah takdir bicara baik-baik ?

*L : Mengapa Orang-orang menolak sadar ketika aku jelas-jelas jatuh terkapar*

P : karena yang harus dikhawatirkan semesta hanya lukamu saja

*L : Sekian tahun ku pelihara nafas untuk bisa ku nikmati, tapi mengapa diam-diam angkara takdir seolah menuntut ku untuk segera mati*

P : Mati sajalah !!!

*L : Terkutuk Lah diri bila ku hanya ingin menjadi diri sendiri*

P : Apakah aib hanya untuk terlihat seperti perempuan betulan ? lemah katamu ? Menangis tidak cocok untukmu

*L : Beritahu aku berita apa yang akan kudengar bila detaknya memilih berhenti dan jejaknya tidak lagi mengakar ?*

P : Kau.. , Aku sudah sampai pada batasku !

*L : Tuhan aku hanya butuh peluk, meski tanpa tangan yang bisa mendekap ku di kasur empuk*

P : Lelah aku Tuhan.. ini diri.. , yang telah muak menatap angkara pada jasad yang tak berbentuk

*L : Hey..*

P : Hey.

*L : Bagaimana kabarmu ?*

P : “Baik”

*L : KHheakh,,” Dasar Penipu! Kau tak kan bisa membohongiku*

P : Kau Pikir.. Bagaimana keadaan seorang perempuan yang harus berdamai dengan rasanya setelah mendadak dipatahkan
Kau tau..? Bagaimana bisa seorang perempuan memberikan punggung untuk menanggung beban sendirian ?
Ketakutan, Kesepian, Kelelahan, Apalagi yang harus ia tahan ? berapa lama ? Apakah harus hingga daging meninggalkan rangkanya ? sampai kapan ??? Sialan !

*L : “Hah?*

P : Bukan Kau..

*L : Khahaha.. , Sudah kubilang, tinggal katakan.. tidak perlu dipendam sendirian*

P : Kau pikir.. Semua Orang dilahirkan dengan kepandaian berbicara sepertimu ? Kau pikir.. Melegakan menahan semuanya sejak umur masih muda ?
Saya berlari, saya menangis, saya berdo’a sembunyi-sembunyi, Haram bagi saya menuliskan perasaan dalam diare.
Hey Arjuna..” Kenalkan! Saya Srikandi!!

*L : “Bukan, Kau Hanya Perempuan”*

P : Tidak!! Perempuan boleh terlihat lemah.. Tapi kami tak layak bahkan untuk mengecap air mata kami sendiri.
Perempuan.., dapat menyandarkan kepala di bahu Orang terkasih. Tapi kami? Berkeluh kesah pun harus pilih-pilih

*L : Kau dibesarkan di pelukan Bapak, Ibu, dan saudara-saudara mu”*

P : Lantas itu yang layak jadi penentu ? Kau tau ?? rasanya menjadi bahan tertawaan keluarga, Saudara yang kau elu-elu ? saat kau bahkan tidak tau apakah cukup sopan untuk marah pada Orang-orang yang menertawai mu? Kau tau rasanya harus terus berkompetisi hanya untuk sekedar membeli hati ? hanya untuk mengatakan; Heyy masih ada aku disini.
Kau tau rasanya tidak dipedulikan ?
Katanya.. aku terlalu mampu untuk menggenggam tanganku sendiri. Katanya, aku tak layak dikhawatirkan sedang tanganku cukup untuk memeluk diriku sendiri.
Katanya.. aku penyelamat paling bisa diandalkan, hingga di lembah terlemah masih diminta mematahkan sayap untuk mereka yang membutuhkan.
Menurutmu.. dimana titik keadilannya? Bukankah Tuhan menciptakan kita semua sama ? Tetapi mengapa makhluk-makhluknya menetapkan standar yang terlalu sulit untuk digapai, betapa mahal untuk menjadi perempuan betulan. Kau.. Tak akan pernah tau rasanya jadi aku, tak akan pernah..

*L : Jangan memaksaku untuk masuk dalam ranah sempit pemikiranmu, Kau utarakan segala keresahanmu, maka ku hadirkan setumpuk hikayat seorang lelaki di selatan mu, Disela-sela ingatanku, tulang punggung siapa yang akan hancur ? air mata siapa yang paling jujur ? langkah siapa yang paling muda tersungkur ? saat tertatih tatih dan mengucap syukur, belum kering keringat lupa diri ia teringat Orang yang dicintainya terlelap tidur, Otak siapa yang sering kali berlaku ganjil demi keutuhan ginjal ? tangan siapa yang meracik duri menjadi ramuan kata perut kosong tanpa pengganjal ? Mata siapa yang tak berkedip sepanjang malam menggadaikan mimpi, menerjang ombak, menepis badai, menikam tabir, menyulut api, menyingkap tirai, dan melumpuhkan tiang langit sebatas ingin dianggap waras oleh mereka yang menganggap ku sakit, Bila kau katakan aku yang tak pernah tau bagaimana rasanya menjadi dirimu, dengan tegas ku pastikan kau sendiri takkan pernah tau bagaimana rasanya menjadi AKU!! Bukan tanpa perasaan ku lontarkan ini nyonya, tapi bisakah kau perbaiki pertanyaanmu ? Bukan dimanakah titik keadilannya, tapi kemanakah fitrahmu saat Tuhan menjawab dan kau masih angkuh bertanya. Tak usah merasa hatimu yang paling patah nyonya, yang terabaikan, yang tersisih dan yang tersingkirkan, tiga kata keramat itu tak pernah pandang ia lelaki ataupun perempuan. Mulailah berhenti mengeluh dan membandingkan, sebab aku muak dengan opini ketidaksetaraan yang menjadikan kebodohan itu menancap berulang ulang.*

P : Kau lucu sekali Tuan, siapa yang memaksamu masuk kedalam pikiran sempit ku seperti katamu ?
 
*L : Aku hanya tak ingin melihat kau tersesat lebih jauh lagi nyonya, sebab perasaan yang kau dewakan  menelan isi kepalamu yang hampir tenggelam, kau tau semua yang tak seimbang pada akhirnya hanya akan berujung sumbang*

P : Sudah sejak entah kapan jiwa dan ragaku berperang, tapi menabuh kan genderang, hanya membuat masalah berpesta pora, karena berhasil membuatku semakin sengsara

*L : Katakan “cantik” pada wanita satu kali, maka iblis membisikkan ke telinganya Sembilan kali. Semakin kau mengantongi percaya pada kebodohan, maka akan semakin hanyut kau diseretnya pada semiotik kehancuran.*

P : Telah ku nyalakan api pengharapan pada setiap adam dan hawa yang ku temu , namun padam lah aku. Karena Manusia sibuk dengan banding membanting, sedang apinya tak pernah menjelaga.
Ku kabarkan padamu Tuan, kini ku pulang, segala maaf karna telah mencaci seolah kau tuli dan tak punya hati.

*L : Tak ada satupun yang sanggup melumpuhkan mu nyonya, kecuali hanya dirimu sendiri, meski kau hanya perempuan seperti katamu, dan aku laki-laki yang terkesan kuat dan arogan di matamu, ketahuilah.. lelaki takkan sekuat dan setangguh itu tanpa ada wanita yang menguatkan dibelakangnya.*

P : “Aghhh.. benar katamu, Aku hanya perempuan dan kau lelaki, yang beban kita tak bisa dibanding banting. Melainkan diterima dengan menafikan akal sinting yang terus mengompori domba aduannya.

*L* & P: “Kau Istimewa, takkan ada yang salah dengan hitungan Tuhan, hanya rumus kita yang sering berkutat pada satu penglihatan”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DARI AKU YANG HAMPIR MENYERAH

izinkan aku bahagia Karya Pengagum

Kamu Tidak Harus Menjadi Seseorang