TERJEBAK DALAM ELEGI

 Terjebak dalam Elegi

Sekian purnama terlewati tanpa hadirmu, dan kamu tahu? Aku masih sangat amat mencintaimu. Bukannya padam, rasa ini justru semakin berkobar dengan rindu yang begitu menyesakkan. Namun aku tak pernah menyesali perpisahan ini.

Aku tidak ingin kita semakin terbuai pada kalopsia dan berujung lebur bersama dikarenakan asmaraloka yang tak semestinya. Hanya ada satu jalan keluar, yaitu merelakan. Entah merelakan perihal rasa atau merelakan keyakinan diantara kita. Dan kamu tahu sendiri jawabannya.

Aku enggan melepasmu, sungguh! Jika diberi pilihan lain, maka aku 'kan bersikeras mempertahankan. Namun baik aku maupun kamu tahu bahwa kita hanya menunda perpisahan.

Menyakitkan memang ketika dua insan yang mencinta harus saling merelakan. Sebab mau seberapa keras pun kita memaksa bersama, sekat tinggi nan tak kasat mata itu tidak bisa diabaikan begitu saja. Dan mungkin benar, semesta hanya mempertemukan bukan untuk menyatukan.

"Bila diberi kesempatan, aku ingin terlahir kembali sebagai sosok yang bisa merengkuhmu tanpa adanya perbedaan." ucapmu sebagai salam perpisahan bak sembilu yang sanggup menyayat tiap bagian dari diriku.

— Persephone
dariku yang mencintaimu dengan sungguh, namun tak mampu melawan restu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DARI AKU YANG HAMPIR MENYERAH

izinkan aku bahagia Karya Pengagum

Kamu Tidak Harus Menjadi Seseorang