𝗠𝗘𝗡𝗧𝗔𝗥𝗜𝗞𝗨 °𝙂𝙤𝙧𝙚𝙨𝙖𝙣𝙋𝙚𝙣𝙖•
𝗠𝗘𝗡𝗧𝗔𝗥𝗜𝗞𝗨
Perkenalkan, Aku adalah langit. Seorang lelaki yang dahulunya sempat kehilangan arah,
Sempat tenggelam bersama luka yang teramat hebat, lalu diseret dengan paksa ke dalam gelombang trauma, yang dahulunya sering dibenturkan oleh kenyataan-kenyataan yang tak sesuai keinginan.
Hingga aku terombang-ambing tak tentu arah, lalu akhirnya aku terjebak pada kegelapan yang menelan diriku dalam-dalam.
Kini waktu demi waktu kian berlalu, tapi goresan luka yang menganga di permukaan hati tak kunjung temukan 𝘱𝘦𝘭𝘪𝘱𝘶𝘳𝘯𝘺𝘢, kesedihan terus melanda diri, ingatan tentang kenangannya selalu menjajah seisi kepala.
Hingga pada akhirnya...
Setelah penantian yang cukup lama,
Aku melihat sinaran cahaya di ujung sana,
Sekilas, aku melihat ada seseorang di sana,
Seolah membisikkan di telingaku untuk keluar dari kegelapan itu, sembari mengulurkan tangan untuk mencoba menarikku ke luar dari sana.
Tak disangka ... ternyata dia adalah seorang wanita yang ronanya begitu memesona,
Raut wajahnya bagai swastamita dan arunika.
Ketika dipandang memberikan sebuah kesejukan di dalam dada.
Matanya layaknya nayanika yang membuatku tersipu malu ketika di tatapnya.
Lengkung senyum di bibirnya layaknya gula-gula yang begitu manis tiada tara.
Sekarang, dia menemaniku di setiap waktu jua.
Seiring berjalan ke tujuan yang sama.
Dan tanpa disadari, kebersamaan dari waktu-waktu yang telah dilewati,
Juga ketenangan dan kenyamanan yang dia beri menjadi begitu berarti.
Ada getar dan debar rasa yang lancang menghampiri hati,
Dan tanpa disadari, aku telah jatuh hati
Bukan hanya itu saja tapi beringinan untuk memiliki.
Sejak hari itu, aku mulai menuliskan sebuah sajak puisi yang kurangkum dengan diksi-diksi dari kata hati.
Mungkin puisinya tak akan seindah atau pun seromantis puisi-puisi yang pernah dia dengar...
Dan sajak puisi ini, teruntuk seseorang yang sekarang bersamaku,
Dan dia kusebut dengan ... Mentariku.
Sosok wanita yang kini ada di hadapanku, yang sedang duduk manis sembari mendengarkan coretan ini. Yaa... Yaitu kamu.
Kamu wanita yang tadi kuceritakan di atas dengan semua keindahanmu, kamu yang selama ini aku cintai..., yang selama ini aku mau, yang aku tunggu dan yang terakhir.
Aku tak pernah menduga, kalau aku akan jatuh cinta padamu begitu dalam seperti sekarang ini.
Aku tak pernah menduga, kalau aku yang setengah patah ini bisa kembali mencintai.
Pertemuan kita memang tak pernah direncanakan, menjatuhkan hati padamu saja tak pernah aku bayangkan sebelumnya.
Rasa itu tumbuh dengan sendirinya.
Percakapan kecil yang pembahasannya tak tentu arahnya ke mana atau saat waktu bersamamu,
Itu seperti racikan bumbu yang membuat rasa itu kian membesar.
Awalnya aku ragu, Aku kira hanya sekebat rasa.
Namun pada akhirnya aku meyakinkan diri.
Kalau yang aku rasa ini bukan hanya sekebat rasa atau hanya sekedar penasaran saja,
Aku tak bisa membohongi diri, kalau aku betul-betul jatuh hati.
Aku ingin membersamaimu dalam semua hal;
Bahagiamu... Sedihmu... Tawa tangismu... Bahkan sampai ufuk senjamu.
Sampai kulit yang tak lagi kencang;
Rambut yang perlahan memutih;
Atau bahkan gigi yang tak lagi utuh.
Aku serius...
Waktu aku mengatakan...,
Aku begitu mencintaimu,
Aku menyayangimu,
Aku ingin mendekapmu seutuhnya,
itu benar dan kamu tak salah mendengarnya.
Aku mencintai kesederhanaanmu,
Dan mencintaimu dengan segala yang aku punya.
Kamu yang membuatku menjadi lelaki, yang tidak pernah berhenti memperjuangkan apa-apa yang pantas untuk diperjuangkan, alasanku untuk terus berjuang mati-matian.
Karna kamu adalah tujuan yang ingin kusegerakan.
Kamu yang mampu memudarkan lara dalam dadaku juga yang mampu menghidupkan kembali jiwaku.
Sebelumnya rasa dan jiwa ini telah lama mati,
Bahkan karakterku pun dibuat mati,
Karena disayat oleh ribuan belati.
Dari dia yang merasa tersakiti,
Tapi tak pernah merasa menyakiti.
Dia adalah orang yang ada di masa lalu, dia yang pernah membuatku percaya bahwa dengannya aku tak lagi merasa sendiri.
Tak lagi sepi...
Atau Tak lagi meratapi sang jingga pergi.
Tapi... Aku ini ibaratkan langit,
Langit akan tetap menjadi langit,
Ia akan tetap sama,
Meskipun langit harus rela kehilangan jingga-nya lalu harus rela melewati mendung-nya,
Demi terbitnya mentari.
Tapi kini aku sangat bahagia karna kehadiranmu, bahagia karena bisa menemukanmu.
Bahkan ribuan sujud, kupersembahan kepada Tuhanku,
Karena sudah mendatangkanmu di dermaga hidupku.
Aku memang tak bisa mendefinisikan atau menjabarkan perasaanku yang kian memuncak hebat.
Bahkan ketika kamu bertanya;
Kenapa aku bisa terjatuh begitu dalam padamu,
Kenapa aku bisa mencintaimu,
Atau menyayangimu,
Aku saja tak bisa menjawab itu.
Aku tidak tahu apa, mengapa atau bagaimana rasa itu ada.
Karena bagiku cinta bukanlah sesuatu yang harus dijelaskan,
Cinta hanya cukup dirasakan,
Lalu dibuktikan.
Aku tidak akan memaksamu untuk meyakini apa yang aku yakini, biarkan waktu saja yang menjawab dan membuatmu percaya, serta yakin dengan apa yang aku rasa saat ini.
Ketika waktu itu tiba, akan aku pastikan, bahwa kamu wanita satu-satunya yang aku perjuangkan dan satu-satunya nama yang aku negosiasikan kepada Tuhanku.
Tak akan aku biarkan kamu untuk bersaing dengan wanita manapun.
Kamu tahu kenapa?
Alasannya masih sama...
Karena hanya ada di kamu, aku benar-benar merasa bahagia.
Gairahku berkobar-kobar membara.
Aku begitu nyaman di dalam dekapan.
Mengerti arti dari sebuah perjuangan,
Arti dari penantian,
Dan arti dari sebuah kesabaran.
Aku kini menjadi diriku kembali.
Karakterku yang sebelumnya mati kini kembali,
Trauma dan mati rasa perlahan berangsur pergi,
Kesedihan serta para air mata kini menjadi senyum-senyum sendiri.
Dan aku rasa telah menemukan rumah yang tepat untuk sekedar membagikan keluh kesahku,
Mungkin di bahumu aku bisa menyenderkan kepalaku untuk sejenak menenangkan pikiranku.
Cerita yang selalu didengarkan.
Dia tak peduli apapun ceritanya, mau itu kebahagiaan atau kesedihan.
Meskipun 𝘳𝘦𝘴𝘱𝘰𝘯-nya kadang agak menyebalkan.
Namun perhatian kecilnya selalu bisa menghangatkan.
Apalagi dengan sifatnya yang masih kekanak-kanakan, namun menebar tawa dan senyuman.
Apalagi dengan 𝘮𝘰𝘰𝘥-𝘯𝘺𝘢, yang bisa berubah kapan saja yang tak terduga waktu-nya, kadang memang membuatku kelimpungan dan kebingungan sendirian,
Sampai ribuan rayuan kulayangkan.
Tapi aku suka caramu untuk mencuri perhatianku.
Meski pun terkadang dia suka hilang kabar yang sering kali membuatku khawatir hingga menghubunginya berkali-kali.
Dan sisi negatifnya, dia terlalu sibuk menyendiri,
Menyendirikan dirinya dalam sunyi, menguras habis hingga menelan diri.
Hingga sesak ke rongga dada sebelah kiri.
Karena tak banyak yang tahu, sebenarnya dia itu "Bunga tanpa akar" Jadi wajar saja kalau dia lebih suka mengurung diri.
Tapi di balik itu, aku sempat berpikir...
Ternyata aku seberuntung itu bisa mengenalmu, wanita yang tidak hanya anggun rupanya saja, namun apapun yang ada di kamu bagaikan anugerah yang turun dari kayangan untukku, hatimu yang lembut bagai kain sutra itu telah meluluhkan aku.
Bahkan aku sangat berterima kasih, karena kamu telah memberikan warna yang berbeda dari orang sebelumnya.
Semoga takdir mengizinkanmu tinggal lebih lama, bahkan selamanya sampai dipertemukan dan dipersatukan hingga menua bersama.
Aku berharap kali ini takdir sejalan dengan keinginanku,
Karena harapanku kini cuma satu,
Duduk berdua denganmu lalu ucapkan ikrar di depan penghulu.
Dari langit untuk mentariku.
°𝙂𝙤𝙧𝙚𝙨𝙖𝙣𝙋𝙚𝙣𝙖•
𝗧𝗮𝗻𝗴𝗲𝗿𝗮𝗻𝗴 𝘀𝗲𝗹𝗮𝘁𝗮𝗻, 𝟮𝟵 𝗠𝗲𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟱
Komentar
Posting Komentar