TERGUNCANG
Aku mencintaimu,
dalam doa yang tak pernah tertidur,
dalam luka yang tak pernah kuperlihatkan,
dalam diam yang selalu kusebut pengorbanan.
Tapi mengapa…
saat kamu menjauh,
aku yang remuk?
Mengapa saat kamu lupa memeluk,
aku yang menggigil?
Aku mencoba kuat,
menambal setiap retak yang kau tinggalkan,
menyapu lantai batin yang berserakan oleh janji yang tak kau jaga.
Namun kemudian,
hadirlah senyum lain—bukan karena kucari,
tapi karena dunia seolah memberinya sebagai pengingat
bahwa aku juga pantas merasa cukup.
Senyum itu bukan perangkap…
ia hanya menyalakan lilin kecil
di ruangan gelap yang kau biarkan tanpa cahaya.
Dan aku terguncang…
bukan karena aku tak setia,
tapi karena aku sadar:
bahkan peluk sesaat
bisa lebih hangat dari diam bertahun-tahun yang kau beri tanpa rasa.
Aku ingin tetap memilihmu,
meski jiwaku lelah menerka.
Aku ingin tetap tinggal,
meski rumah ini sering bocor di malam paling hujan.
Tapi akuilah…
bahwa bukan aku yang lemah,
melainkan kau yang tak sadar
bahwa aku sudah terlalu lama berdiri sendiri di tengah badai
sambil tetap menyebut namamu dalam setiap doa.
Siapa Aku,
15 Juli 2025, Dini Hari
Ruang Penuh Harap
Komentar
Posting Komentar