AKU MENCINTAIMU, KETIKA; Kotagu, Majalengka, Jawa Barat, 2020

 AKU MENCINTAIMU, KETIKA;


Aku mencintaimu, ketika;

Lumbung-lumbung padi

dipenuhi bangkai tikus,

Ketika ladang dan pematang 

gelanggang banting-tulang hilang,

menjadi sengketa dalih renovasi.

Ketika sekepal nasi kehilangan karbohidrat,

Bening mata air diselami potas.


Aku mencintaimu, ketika;

Ribuan Ibu rela ditinggal anak merantau jauh

ke jantung kota demi sekepal upah,

Ketika gelar dan ijazah menjadi

bungkus gorengan

jajanan tepi jalan,

Ketika tukang becak kehilangan sewa, 

terungku dipenuhi para mangsa terka dan kira.


Aku mencintaimu, ketika;

Kopi, teh, dan arak setara dalam keramaian

Ketika berpeluk moksa di muka raya

tanpa peduli sekitar menjadi aib yang wajar

Ketika mengobrol dengan pelacur

dianggap lacur

Sedang kumpul kerbau telah masyhur


Aku mencintaimu, ketika;

Gugu dan tiru mulai jatuh

Ketika bocah Smp belajar meremas payudara

Ketika murid berani aniaya gurunya

Ketika sekolah menjadi gelanggang adu harta

adu rupa, dan adu kuasa.


Aku mencintaimu, ketika;

Berbicara tak lagi saling tatap muka

Ketika bayi-bayi kehilangan ASI

dari payudaya ibunya,

Ketika bayi-bayi menetek pada sapi

Ketika payudara ibu tak bisa dibagi-bagi

Ketika berak dan kencing

setara harga sarapan pagi.


Aku mencintaimu dengan tragedi;

Ketika ratusan bocah berkemah 

hanyut di sungai

Ketika alat negara ditembak saat berwudhu

Ketika pelacur dijebak anggota DPR

"dipake dulu, baru dilaporkan".

Ketika ikan-ikan di Natuna

dalam kokangan senjata.


Aku mencintaimu, ketika;

Cermin belajar berbohong

Ketika metafora dijadikan kadar

sebuah hasta karya

Ketika pemabuk peri kencing di celana

Ketika paruh baya diarak, diseret, dimasukan truk-berdesakan, dibariskan di lapangan, dan dipaksa teriak, SATU ATAU DUA tanpa mengerti untuk apa.


Aku mencintaimu, ketika;

Embun jatuh bersama subuh,

Ketika takbir, ketika rukuk, ketika sujud,

Ketika Senin, Ketika Selasa, ketika Rabu,

ketika Kamis, ketika Jumat, di Selandia Baru puluhan mualim berkalang tanah

ditembaki saat beribadah

Ketika Sabtu, ketika Minggu,

ketika saling lempar batu.


Aku mencintaimu, ketika;

Mendung, ketika panas, ketika kemarau

Ketika hutan-hutan terbakar

puluhan ribu orang disekap asap

Ketika separuh Indonesia kehilangan embun

kehilangan oksigen, kehilangan pekerjaan.

Ketika rampang akan rancang undang-undang.


Aku mencintaimu, ketika;

Gerimis, ketika hujan

Ketika banjir hanyutkan ribuan puisi

ke balai kota

Ketika phiton tidur seranjang 

dengan warga,

Ketika melati, ketika mawar, anggrek dan matamorry saling silang; hias Balai kota.


Aku mencintaimu hari ini;

Ketika Amerika, Cina, Iran, ketika Indonesia

Ketika 72 negara dijamu pandemi

Ketika dunia dihebohkan 

dengan wabah Corona,

Ketika Cina diserang jutaan belalang,

Ketika makkah dan madinah sunyi atas ibadah

Ketika ibadah umroh ditahan sementara,

guna mencegah penularan. 

"sekali dalam sejarah!"

Aku mencintaimu,

ketika salam dengan mencium tangan tidak dibolehkan, guna mencegah penularan.


Aku mencintaimu ketika;

Kawanan seumur jagung retakan rembulan,

patahkan gemintang, memarkan senja, bakar pagi demi kado kekasih hati.

Ketika tak sependapat dicap tiri

Ketika berani melawan takkan punya kawan.


Aku mencintaimu, malam ini

Ketika senang, ketika sedih, duka dan lara

Ketika waras, ketika sinting

Ketika gelas kaca, botol martel, ketika beling

ketika bibir, ketika gincu, ketika aku dibilang Tuan para ratu anarki, ketika segala hal rancu

antarkan menuju pelukmu.


Aku mencintaimu, ketika;

Perak tubuhmu dipenuhi rajah ragam metonimia

Ketika repetisi berulang riwayatkan rendahnya makrifat literasi

Ketika kau dijadikan dedahan guna sampai puncak keduniaan.

Ketika tanda tanya hanya retorika dalam penegasan, tanpa jawaban.

Ketika desakan bawah 

hanya jadi pentas najis

dengan gong-gong

dari anjung seekor anjing.


Wahai, Puisi.

Aku mencintaimu, ketika aku tahu

cinta tak dimiliki tiap nadi lagi,

Ketika cinta tak singgah di tiap nyawa.

Aku mencintaimu, wahai, Puisi!.


 Kotagu, Majalengka, Jawa Barat, 2020

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DARI AKU YANG HAMPIR MENYERAH

izinkan aku bahagia Karya Pengagum

Kamu Tidak Harus Menjadi Seseorang