𝗞𝗮𝗿𝘆𝗮 : 𝗣𝗮𝗻𝗴𝗲𝗿𝗮𝗻 𝗔𝗸𝘀𝗮𝗿𝗮 & 𝗣𝗲𝗻𝗮_𝗟𝗶𝗻𝗴𝗴𝗮 𝗟𝘂𝘄𝘂 𝗱𝗮𝗻 𝗥𝗮𝗷𝗮 𝗔𝗺𝗽𝗮𝘁

 𝗣𝗲𝗿𝘁𝗶𝗸𝗮𝗶𝗮𝗻 𝗦𝗶𝗿𝗶' :

𝗞𝗮𝗿𝘆𝗮 : 𝗣𝗮𝗻𝗴𝗲𝗿𝗮𝗻 𝗔𝗸𝘀𝗮𝗿𝗮 & 𝗣𝗲𝗻𝗮_𝗟𝗶𝗻𝗴𝗴𝗮 


#PROLOG#

Di tanah yang menjunjung tinggi harga diri, cinta tak selalu menjadi alasan untuk bertahan. Ada batas yang tak boleh dilanggar, ada kehormatan yang harus dijaga, meski harus dibayar dengan nyawa.


Senja di tepi laut menjadi saksi bisu dua hati yang terikat dalam kebimbangan. 𝗗𝗔𝗘𝗡𝗚 𝗠.𝗥 dan 𝗔𝗭𝗜𝗥𝗔 𝗙.𝗔, sepasang kekasih yang pernah mengukir janji, kini berdiri di persimpangan takdir. Restu telah mereka perjuangkan, tapi hati tak bisa dipaksa. Di balik tawa dan kenangan yang mereka ukir bersama, tersimpan rahasia yang menggetarkan batas kewajaran.


Ketika cinta bersimpangan dengan harga diri, maka darah bisa menjadi satu-satunya bahasa. Siri’—kehormatan yang dijunjung setinggi langit—menjadi bara yang siap membakar segalanya.


Dan di malam itu, ketika ombak menyapu jejak di pasir, pertikaian tak bisa lagi dihindari. Luka yang terukir tak hanya di hati, tetapi juga di dalam adat yang tak mengenal kompromi.


Di tanah Bugis, siri’ bukan sekadar kata. Ia adalah nyawa. Dan sekali ia terinjak, tak ada jalan untuk kembali...


Tibalah waktu 𝗗𝗔𝗘𝗡𝗚 𝗠.𝗥 dan 𝗔𝗭𝗜𝗥𝗔 𝗙.𝗔 sepakat memadu kasih, dipelataran pantai Losari (makassar)... 

----------------------


𝗔𝗭𝗜𝗥𝗔 𝗙.𝗔 :

Lihat keluarga kecil itu, Daeng. Mereka berlarian sambil tertawa, seakan-akan itu adalah gambaran kita di masa depan. 



𝗗𝗔𝗘𝗡𝗚 𝗠.𝗥 :

Tapi mataku tertuju pada pria di seberang sana, Azira. Dia duduk sendiri, termenung, membiarkan ombak menyapu jejak kebahagiaannya.



𝗔𝗭𝗜𝗥𝗔 𝗙.𝗔 :

Waktu terus berjalan. Senja akan pergi, meninggalkan malam yang datang dengan kesunyian. Hingga dingin menyelimutinya tanpa belas kasihan.



𝗗𝗔𝗘𝗡𝗚 𝗠.𝗥 :

Apa maksudmu, Azira?

Perkataanmu menusuk, seperti badik yang mengoyak dada.

Jangan berbicara dengan teka-teki. Katakan, apa yang tersembunyi di balik senyummu?



𝗔𝗭𝗜𝗥𝗔 𝗙.𝗔 :

Andai saja angin bisa membisikkan perasaanku kepadamu, Daeng. Mungkin semua ini tak akan terjadi.

Restu orang tua telah mengikatku dalam janji suci, tetapi hatiku tidak bisa dipaksa.


Sebenarnya... ada seseorang yang aku cintai selain dirimu.

Jika pernikahan ini hanya karena restu, maaf... aku ingin mengakhirinya.



𝗗𝗔𝗘𝗡𝗚 𝗠.𝗥 :

Maaf !

Setelah lamaran itu terjadi ! 

Aku merasakan tusukan di relung hati.

Laksana menanam benih di tanah tandus, kau sirami aku dengan harapan, tetapi yang tumbuh hanyalah luka.


Enam tahun kita bersama, dan kau berkata, “Aku tak ingin tanpa restu.”

Aku hadir di depan orang tuamu, menunjukkan keseriusan.

Tapi kini, tanpa rasa bersalah, kau menginjak harga diriku?


Kenapa, Azira? Kenapa kau tak jujur sejak awal?



𝗔𝗭𝗜𝗥𝗔 𝗙.𝗔 :

Aku sudah mencoba mengikhlaskannya, Daeng...

Namun semakin aku menjauh, langkahku justru mendekat kepadanya.

Suara lirihnya selalu hadir dalam ingatanku.

Aku mencintaimu, tapi aku juga mencintainya...



𝗗𝗔𝗘𝗡𝗚 𝗠.𝗥 :

Matte’ Siri’ku! Kau melibatkan dia dalam ikatan suci kita!

Bagaimana kau bisa terpedaya olehnya?

Apa yang dia berikan hingga kau layu dalam genggamanku?!



𝗔𝗭𝗜𝗥𝗔 𝗙.𝗔 :

Iya, aku jujur... Aku pernah tidur bersamanya.



𝗗𝗔𝗘𝗡𝗚 𝗠.𝗥 :

Apa?! (Plak!)



𝗔𝗭𝗜𝗥𝗔 𝗙.𝗔 :

Maafkan aku, Daeng...



𝗗𝗔𝗘𝗡𝗚 𝗠.𝗥 :

Maaf?!

Maaf tidak akan menghapus penghinaan ini!

Kau telah membunuhku dengan kenyataan yang kau ciptakan!


(Menghunus badik...)

"Inakke lebba ku sebut arennu ri anne belati, teako antama riolo a'tumpa cera." (Telah kusebut namamu dalam belati,Pantang masuk sarung sebelum menumpahkan darah)


𝗔𝗭𝗜𝗥𝗔 𝗙.𝗔 :

Daeng! Apa yang kau lakukan? Jangan!



𝗗𝗔𝗘𝗡𝗚 𝗠.𝗥 :

Pantang badik masuk sarung sebelum menumpahkan darahnya!

Aku tidak akan membiarkan dia merebut kebahagiaanku!

Semuanya telah hancur, Azira...


Jika harus ada darah yang berbicara, biarkan badikku menuntaskan siri’ yang kau langgar!



𝗔𝗭𝗜𝗥𝗔 𝗙.𝗔 :

Hentikan, Daeng!

Relakan aku! Jangan kau nodai tanganmu dengan dosa!

Padamkan amarahmu, jangan kau biarkan api ini menghanguskan segalanya!


Tolong, ajarkan aku untuk melupakanmu...

Beri aku syarat agar kau bisa melepaskanku...

Aku bahagia bersamamu, tetapi hatiku terikat di tempat lain...



𝗗𝗔𝗘𝗡𝗚 𝗠.𝗥 :

Lupakan aku sebisamu, Azira...

Aku pergi, bukan karena aku takut...

Tapi karena aku tahu, siri’ sudah tak punya tempat dalam hatimu!


Cucuran darah akan menjadi saksi penghinaan ini...

Engkau tak merasakan perihnya gagal dalam pernikahan, sementara aku kehilangan segalanya!



𝗔𝗭𝗜𝗥𝗔 𝗙.𝗔 :

Jika kau ingin membunuhnya, kenapa tidak sekalian membunuhku?!

Biar kau puas, Daeng! Bunuh aku!!!



𝗗𝗔𝗘𝗡𝗚 𝗠.𝗥 : 

(Menatap tajam, lalu berbalik pergi...)


Maaf, Azira... Aku harus pamit.

Kau akan melihat siapa yang terbujur kaku lebih dulu...

Jika dalam doa aku dan kau tak bisa bersatu, maka dalam kematian ragaku akan tetap memelukmu...



---


𝗣𝗲𝗿𝘁𝗶𝗸𝗮𝗶𝗮𝗻 𝗦𝗶𝗿𝗶' :


𝗞𝗮𝗿𝘆𝗮 : 𝗣𝗮𝗻𝗴𝗲𝗿𝗮𝗻 𝗔𝗸𝘀𝗮𝗿𝗮 & 𝗣𝗲𝗻𝗮_𝗟𝗶𝗻𝗴𝗴𝗮

𝗟𝘂𝘄𝘂 𝗱𝗮𝗻 𝗥𝗮𝗷𝗮 𝗔𝗺𝗽𝗮𝘁 - 𝟲 -𝗙𝗲𝗯𝗿𝘂𝗮𝗿𝗶 - 𝟮𝟬𝟮𝟱

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DARI AKU YANG HAMPIR MENYERAH

izinkan aku bahagia Karya Pengagum

Kamu Tidak Harus Menjadi Seseorang