Manis yang Kita Perjuangkan Karya :Picolo

 Manis yang Kita Perjuangkan

Karya :Picolo


Di lereng senja yang tumbuh di punggung awan,

aku melihatmu datang seperti pohon aren yang lamban, keras di kulitnya, manis di rahasianya.


“Kau tahu,” kataku,

“bersamaku akan sedikit susah.”

Dan angin sore tertawa kecil,

seolah telah membaca isi dadaku sebelum aku sempat menuliskannya.


Tapi kau mendekat, menyentuh jarak antara kita

dengan ketabahan yang bahkan hujan pun iri padanya. Kau bilang,

“Kesulitan hanyalah tanah liat;

di tangan kita, ia bisa menjadi kendi tempat kita menampung hari-hari.”


Maka perjalanan pun dimulai.

Kita melintas di jalan berkerikil,

di mana sabar adalah langkah,

dan rindu adalah mata air kecil yang tak pernah kering.

Kadang aku tersandung rasa takutku sendiri,

kadang kau berhenti terlalu lama

untuk mengeringkan keraguan dari pipi malam.


Namun setiap kali dunia terasa runtuh seperti pelepah tua,

kau memelukku dengan cara aren memeluk angin, diam, tapi tak pernah melepaskan.

Bahkan ketika aku menjadi badai,

kau tetap berdiri— akar yang entah dari mana menemukan caranya untuk tak menyerah padaku.


Dan kini aku tahu, mencintaimu bukan tentang mencari yang mudah, melainkan tentang menanam yang rapuh di tanah yang bersuara retak, lalu percaya— bahwa suatu hari,

kita akan memanen manis yang diperjuangkan.


Jika aren bisa tumbuh di bukit yang paling keras,

maka biarkan aku tumbuh di hatimu

meski caraku mencinta kadang masih tersandung, masih takut, masih belajar.


Karena bersamaku memang sedikit susah.

Tapi bersamamu— dunia justru menjadi lebih sederhana daripada sepatah kata “bahagia”.


18 November 2025

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DARI AKU YANG HAMPIR MENYERAH

izinkan aku bahagia Karya Pengagum

Kamu Tidak Harus Menjadi Seseorang