Mesin Penggerus Waktu Cerpen : Garis Hitam
Mesin Penggerus Waktu
Cerpen : Garis Hitam
Aku terbangun dari tidurku ulah mesin rumput yang ada di depan pelataran tetangga. Padahal jarak rumahku dan mesin itu sekitar 50 meter, tapi begitu nyaring hingga memekik di telinga. Padahal bunga tidur kali ini sedang asik-asiknya.
Terduduk, dengan muka kusam, mengkerut seperti jeruk nipis yang diperas. Mata yang berkedip-kedip seolah memanggil energi untuk berkumpul pada tubuhku. Hari ini minggu, seharusnya aku bisa bangun siang dengan tenangnya, tapi ternyata tetap saja harus terbangun di pagi hari. Ah...! Rasanya ingin berteriak sekeras-kerasnya.
Melirik detak jam yang terkait pada dinding. Seolah waktu tak pernah capek untuk terus melaju. Tapi tidak dengan perasaan ini—yang masih mencari-cari kebelakang, letak kesalahanku padanya. Kumpulan butir kenangan kembali hinggap di kepalaku, bukan karena mesin rumput yang menggaggu _hibernasiku_. Entah dari mana pikiran itu muncul secara tiba-tiba. Dan mengapa ia pergi tanpa melontarkan basa-basi?
Aku juga tak begitu yakin, apakah hubunganku denganya—hanya sebatas teman semata?. Kita hanya tak bisa mengutarakan sesuatu sebagaimana mestinya. Saling berbohong satu sama lain, sedangkan bentuk perhatian dan kekhawatirannya di luar batas kewajaran. Entah bagaimana menyusun kode-kode yang tersirat? Sementara aku masih bimbang perihal enigma yang cermat. Atau mungkin Ia sangat lihai menyembunyikan sesuatu untuk dirinya sendiri. Sama sepertiku yang diselimuti kerisauan.
Sekarang sudah tidak ada lagi notifikasi darinya, nama yang paling banyak pada daftar keluar-masuk panggilan. Kini sudah tidak ada. Ia sempat berkata, jika ada sesuatu yang harus Ia kerjakan di tempatnya. Aku menunggu dan terus menunggu. Wajar memang, karena sudah terbiasa dari datangnya matahari sampai tenggelam, kita saling berbalas pesan atau sekadar memberi kabar. Kini aku seperti jam dinding yang terus bergerak tapi masih di tempat yang sama.
Mencintai dalam diam itu seperti mengemas diri untuk terus bersembunyi. Ingin rasanya mengatur kata-kata dan mulai terbuka mengenai perasaan. Tapi selalu gagal karena takut tak bisa menerima kenyataan, jika Ia hanya menganggapku sebagai teman semata atau bisa jadi hanya mengganggapku sebagai saudaranya sendiri. Ah sudahlah...! Kehilangan memang selalu mendatangkan kata _menyesal_ pada akhirnya. Sekarang mungkin Ia sedang bermesraan dengan yang lain, atau ketika aku sedang memikirkannya, Ia sedang asik bermalam mingguan dengan riang. Sementara aku, masih saja menunggu seseorang yang sudah tidak bisa lagi di perjuangkan.
Lalu tiba-tiba notifikasi muncul! Kukira darinya, ternyata ... bonus data dari _provider_ untuk pengisian pulsa. Ah...! Tidur sajalah, mumpung mesin bising itu suaranya lenyap entah kemana. Aku lanjutkan lagi mimpi yang barusan terputus, mungkin, aku bisa bertemu dengannya dan menanyakan kabarnya, itu sudah dari cukup.
Bandung, 08 Juli 2021
Komentar
Posting Komentar