Di Bawah Langit yang Sama, Dengan Beban yang Berbeda karya jejak pena
Di Bawah Langit yang Sama, Dengan Beban yang Berbeda
Pena: (Sambil mengarahkan teropong kecil ke langit)
Lihat itu, Del. Bintang yang paling terang di sebelah sana... namanya Sirius. Dia seperti kau, selalu ingin jadi yang paling mencolok agar orang lain tidak tersesat dalam gelap.
Adel: (Tersenyum lebar, matanya berbinar)
Wah, benarkah? Berarti aku punya kembaran di atas sana. Tapi Sirius tidak pernah capek, kan? Dia bersinar jutaan tahun tanpa mengeluh.
Pena:
Mungkin dia mengeluh, tapi jaraknya terlalu jauh untuk kita dengar. Dia hanya punya satu tugas: bersinar. Sama seperti kau yang merasa punya tugas untuk selalu membuat orang di sekitarmu tertawa. Es krim tadi siang, kau bahkan memberikan milikmu pada anak kecil yang menangis itu padahal kau sendiri sangat menginginkannya. Kau hebat, Del.
Adel: (Tertawa kecil, menyenggol lengan Pena)
Itu kan hal kecil, Pena. Melihat orang lain senang itu... entah kenapa, membuatku merasa berguna. Aku merasa tugasku di dunia ini selesai kalau aku bisa menghapus satu saja kesedihan orang lain.
Pena: (Menurunkan teropongnya, menatap Adel dalam-dalam)
Tapi siapa yang menghapus kesedihanmu, Del?
Adel: (Terdiam sejenak, senyumnya masih ada tapi sedikit kaku)
Aku? Aku kan punya diriku sendiri. Dan aku punya kau. Lagipula, aku tidak punya alasan untuk sedih. Lihatlah, malam ini indah, cokelatnya enak, dan kau ada di sini. Apa lagi yang kurang?
Pena: (Suaranya merendah, sangat tenang)
Kau tahu, aku ini seorang penulis. Aku menghabiskan seluruh hidupku untuk memperhatikan detail. Aku tahu bedanya senyum yang sampai ke mata, dan senyum yang hanya berhenti di bibir sebagai bentuk kesopanan. Sejak tadi, bibirmu bicara tentang kebahagiaan, tapi jemarimu... dari tadi kau meremas ujung bajumu dengan sangat kencang. Ada apa, Del?
Adel: (Mencoba tertawa, tapi suaranya agak tercekat)
Kau ini... terlalu sensitif. Aku hanya... hanya sedikit lelah karena pekerjaan dan ekspektasi orang-orang. Biasalah. Besok juga hilang kalau dibawa tidur.
Pena:
Tidur hanya mengistirahatkan tubuh, Del. Bukan perasaan. Kau tidak perlu berpura-pura di depanku. Aku tidak sedang memintamu untuk menjadi inspirasi puisiku malam ini. Aku hanya ingin menjadi manusia yang ada untukmu.
Adel: (Napasnya mulai tidak teratur, senyumnya perlahan runtuh)
Pena, jangan mulai... kalau kau bicara selembut itu, pertahananku bisa hancur. Aku sudah susah payah membangun dinding ini supaya aku tetap terlihat kuat.
Pena:
Untuk apa dinding itu jika di dalamnya kau merasa sesak? Kau tidak sedang berada di panggung sandiwara. Tidak ada penonton di sini. Hanya ada aku, Pena yang kaku ini, dan kau. Jika kau ingin menangis, jangan minta izin. Jika kau ingin berteriak karena lelah harus selalu jadi 'si ceria', teriaklah.
Adel: (Satu tetes air mata jatuh, ia cepat-cepat menyekanya)
Tidak, aku tidak mau menangis. Aku benci terlihat berantakan. Aku benci saat orang-orang menatapku kasihan dan bilang "Sabar ya, Adel yang kuat pasti bisa". Aku tidak mau disuruh kuat lagi, Pena. Aku capek jadi kuat.
Pena:
Kalau begitu, jadilah lemah. Jadilah rapuh. Hancurlah berkeping-keping di depanku. Aku berjanji tidak akan menyuruhmu berhenti menangis. Aku tidak akan memberimu kata-kata motivasi yang kosong. Aku tidak akan memintamu untuk tersenyum hanya agar suasana tidak canggung.
Adel: (Tangisnya mulai pecah, bahunya bergetar hebat)
Aku... aku merasa sendirian bahkan saat aku sedang tertawa bersama banyak orang. Aku merasa harus selalu jadi orang yang paling bahagia supaya mereka tidak khawatir... tapi rasanya sakit sekali, Pena. Sakit sekali menyembunyikan ini sendirian.
Pena: (Mendekat, merangkul bahu Adel dan menariknya ke pelukannya)
Tumpahkan semuanya. Jangan sisakan sedikit pun. Bahuku ini cukup lebar untuk menampung semua air mata yang kau tabung selama ini. Jangan dipaksa untuk berhenti. Jika butuh waktu semalaman untuk menangis, maka kita akan duduk di sini sampai pagi datang.
Adel: (Tenggelam dalam pelukan Pena, suaranya teredam isak tangis)
Maaf... maaf aku tidak bisa jadi Adel yang manis malam ini... maaf aku berantakan sekali...
Pena:
Kau tidak perlu minta maaf untuk menjadi manusia. Kau tidak berantakan, kau hanya sedang jujur. Dan bagiku, kejujuranmu ini jauh lebih indah daripada ribuan tawa palsu yang kau berikan pada dunia tadi siang. Aku di sini, Del. Aku memegangmu. Kau aman.
Adel: (Mulai tenang meski masih sesenggukan)
Kau tidak akan memintaku untuk tersenyum sekarang?
Pena:
Tidak. Sampai kapan pun kau butuh untuk bersedih, aku akan menemanimu dalam sedih itu. Aku tidak akan memaksamu mencari pelangi saat badaimu belum reda. Kita duduk di sini saja, di tengah badaimu, sampai kau sendiri yang merasa cukup.
Adel:
Terima kasih, Pena... Terima kasih sudah membiarkanku tidak baik-baik saja.
Pena:
Selamanya, Del. Kau punya hak untuk itu bersamaku. Tidurlah di bahuku kalau kau lelah menangis. Aku tidak akan ke mana-mana.
Adel:
Jangan pergi ya?
Pena:
Tidak akan. Tinta ini tidak akan pernah meninggalkan kertasnya, begitu juga aku tidak akan meninggalkanmu dalam gelapmu. Menangislah lagi kalau masih ada yang tersisa. Aku masih di sini. Aku akan selalu di sini.
Probolinggo, 6 Januari 2026
Jejak pena
Komentar
Posting Komentar