Dialog Judul: Di Balik Jendela dan Terang Matahari karya jejak pena

 ​Judul: Di Balik Jendela dan Terang Matahari



​Adel: (Sambil memegang pulpen Pena) 

"Pen, kamu tahu nggak? Kalau hidung kamu ditekan gini, kamu jadi mirip banget sama lumba-lumba yang lagi minta makan. Hahaha!"



​Pena: (sambil tertawa) 

"Wah, mulai ya! Kamu tuh ya, udah dikasih cokelat hangat, bukannya berterima kasih malah menghina hidung penyelamat kamu ini. Sini balikin pulpennya, Adel!"



​Adel: (Berlari menjauhkan pulpen) 

"Nggak mau! Ini tawanan aku. Kalau mau pulpen ini balik, kamu harus janji nggak bakal panggil aku 'Si Tukang Ngantuk' lagi di depan umum!"



​Pena: (Berhasil menangkap pulpennya sambil tertawa)

"Hahaha, Oke, oke! Janji! Kamu bukan Si Tukang Ngantuk, tapi 'Tuan Putri Tidur'. Gimana? Lebih keren kan?"



​Adel: (Tertawa lepas) 

"hahaha, Sama aja, Pena! Kamu emang nggak pernah mau kalah ya!"



​Pena: (Tawanya mereda) 

"Tapi serius, Del... aku suka banget lihat kamu ketawa kayak gini. Rasanya kayak semua kerjaan aku minggu ini langsung lunas."



​Adel: (Perlahan tawanya memudar, ia terdiam sejenak dan tatapan nya kosong) 

"Pen...?"



​Pena: (Menyadari perubahan suara Adel)

 "Iya? Kok tiba-tiba suaranya jadi pelan gitu? Ada apa?"



​Adel: (Duduk nada lesu) 

"Kadang aku mikir... kenapa ya aku cuma bisa seceria ini kalau lagi sama kamu aja? Tadi di kampus, aku cuma bisa diam. Pas yang lain bisa jadi pusat perhatian yang hangat kayak matahari, aku malah ngerasa kayak... aku ini nggak kelihatan. Kayak transparan."



​Pena: 

"Kamu merasa asing di tengah keramaian?"



​Adel: 

"Iya, Pen. Aku pengen berubah. Aku pengen bisa jadi pribadi yang lebih terbuka dan berani menyapa dunia kayak mereka. Aku capek jadi 'si pengamat dari kejauhan' yang selalu butuh waktu lama buat nyesuaiin diri. Aku pengen bisa jadi bagian dari keramaian itu, biar orang-orang nggak nganggap aku aneh atau sulit didekati."



​Pena: (menghela nafas) 

"Adel, dengerin aku. Kamu nggak perlu jadi 'si paling berisik' hanya supaya dunia menyadari kehadiranmu. Kamu tahu kenapa mutiara itu berharga? Karena dia nggak berteriak dari dasar laut buat pamer keindahannya. Dia tetap diam di dalam cangkang, tapi siapa pun yang menemukannya tahu betapa bernilainya dia."



​Adel:

"Tapi kalau aku terus-terusan bersembunyi di dalam cangkang, orang nggak bakal kenal aku, Pen."



​Pena: "Kamu nggak bersembunyi, kamu hanya sedang menjaga ketenanganmu. Berubah itu boleh kalau tujuannya untuk kebahagiaanmu sendiri, bukan karena kamu ngerasa 'kurang' dibanding mereka yang lebih vokal. Kalau kamu mau belajar lebih berani, aku bakal temani setiap langkahnya. Tapi tolong, jangan pernah benci sisi tenangmu ini. Karena dari situ kamu bisa jadi Adel yang lembut dan penuh perhatian. Bagiku, adel yang sekarang sudah lebih dari cukup."



​Adel: (terharu) 

"Jadi... aku nggak perlu jadi orang lain yang bukan aku?"



​Pena: "Nggak perlu sama sekali. Dunia sudah punya terlalu banyak orang yang ingin selalu terdengar, tapi dunia kekurangan orang yang menenangkan kayak kamu. Tetaplah jadi Adel yang aku kenal. Kalaupun mau berubah, berubahlah pelan-pelan karena kamu ingin, bukan karena kamu terpaksa oleh keadaan."



​Adel: (Hening sejenak, lalu senyum tipis)

 "Hehe Makasih ya, Pen. Kamu tuh emang beneran kayak pena ya? Selalu bisa nulis jawaban yang pas buat pertanyaan-pertanyaan berantakan di kepala aku."



​Pena: (Tersenyum lebar) 

"Nah, gitu dong. Senyumnya balik lagi."



​Adel: (Tiba-tiba tertawa kecil teringat sesuatu) "hahaha.Tapi beneran deh, kalau aku jadi lebih berani dan punya banyak teman nongkrong, kamu jangan nangis ya kalau aku tinggal-tinggal!"



​Pena: (Tertawa lepas) "hahaha. Wah, udah mulai sombong nihh! Tapi jujur ya, Del..." 



​Adel: "Apa?"


​Pena: "Pas kamu ketawa lepas kayak tadi... itu momen paling lucu sekaligus paling cantik yang pernah aku lihat. Rasanya dunia nggak butuh orang yang paling ramai atau paling berani, dunia cuma butuh kamu buat tetep ketawa kayak gitu. Kamu kalau ketawa gitu, lucunya nggak masuk akal tauu?"


​Adel: (malu dan teriak) "PENAAA!!! Ih, tadi udah serius, sekarang mulai lagi gombalnya! Malu tahu!"



​Pena: "Hahaha! Biarin, yang penting Tuan Putri aku udah nggak mendung lagi wajahnya. Ayo, mau cokelat lagi nggak?"



​Adel: (sambil nyengir) "Mauuuuu! Tapi kamu yang buatin, ya!"



Probolinggo 17, September 2025

Jejak pena

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DARI AKU YANG HAMPIR MENYERAH

izinkan aku bahagia Karya Pengagum

Kamu Tidak Harus Menjadi Seseorang