Dialog Menunggu Pagi yang Tak Kan Kita Temui karya ๐๐ฒ๐ฑ ๐Š๐š๐ฅ๐š๐ฆ๐จ๐ฌ

 Menunggu Pagi yang Tak Kan Kita Temui

๐๐ฒ๐ฑ ๐Š๐š๐ฅ๐š๐ฆ๐จ๐ฌ


​Latar: Sebuah balkon kastel yang melayang di atas awan hitam. Jam pasir di atas meja menunjukkan butiran terakhir. Nyx berdiri kaku, sementara Adel bersandar di bahunya, terbalut selimut tebal.



​Nyx: (Suaranya berat, seperti guntur jauh) "Kau gemetar lagi, Adel. Harusnya aku tidak membawamu ke tepi cakrawala malam ini. Udara di sini terlalu dingin untuk paru-paru manusia."



​Adel: (Tersenyum tipis, merapatkan selimut) "Ini bukan karena dingin, Nyx. Ini karena aku sadar betapa luasnya dirimu, dan betapa kecilnya aku di dalam dekapanmu. Aku hanya mencoba merekam detak jantungmu sebelum... yah, sebelum semuanya menjadi sunyi."



​Nyx: "Jangan bicara soal kesunyian. Aku telah hidup dalam sunyi selama ribuan tahun sebelum kau datang membawa kebisingan kecil yang merepotkan itu. Aku bisa saja menghentikan waktu sekarang juga. Mengunci detik ini agar kau tetap bernapas di sampingku."



​Adel: "Tapi kau tahu itu bukan cinta, kan? Itu hanya pengawetan. Kau akan memilikiku sebagai patung, bukan sebagai Adel yang suka tertawa karena leluconmu yang garing. Biarkan waktu berjalan, Nyx. Biarkan ia mengalir sebagaimana mestinya."



​Nyx: (Berbalik menatap Adel, matanya yang sehitam semesta nampak berair) "Bagaimana bisa kau begitu tenang? Kau akan pergi ke tempat yang tidak bisa kujangkau. Aku menguasai kegelapan, tapi aku tidak punya kuasa atas gerbang yang akan kau lalui sebentar lagi."



​Adel: (Mengangkat tangan, menyentuh pipi Nyx yang dingin) "Hei, lihat aku. Selama ini, orang-orang takut pada malam. Mereka takut pada kegelapanmu. Tapi aku? Aku menemukan rumah di sana. Tragis memang, seorang gadis cahaya jatuh cinta pada sang malam. Tapi bukankah bintang-bintang hanya bisa terlihat karena ada kamu?"



​Nyx: "Bintang-bintang itu abadi, Adel. Kau tidak."



​Adel: "Justru karena aku tidak abadi, cintaku padamu menjadi lebih berharga dari bintang mana pun. Bintang punya jutaan tahun untuk mencintaimu. Aku? Aku hanya punya sisa sepuluh menit, dan aku memberikan seluruh sisa hidupku itu hanya untuk menatap matamu. Bukankah itu manis?"



​Nyx: (Suaranya bergetar) "Itu kejam. Kau memberikan segalanya, lalu meninggalkanku dengan ingatan tentang segalanya. Aku lebih suka kau tidak pernah datang, daripada harus melihat fajar merebutmu dariku."



​Adel: "Jangan salahkan fajar. Fajar adalah cara semesta mengatakan bahwa tugasmu malam ini sudah selesai. Kamu sudah menjagaku dengan sangat baik. Sekarang, berjanjilah padaku satu hal.



​Nyx: "Apa pun. Sebutkan saja. Akan kubangun monumen dari batu bintang terkeras untukmu."



​Adel: "Tidak perlu batu. Berjanjilah, setiap kali manusia di bawah sana merasa kesepian di tengah malam, peluklah mereka seperti kau memelukku. Jangan biarkan mereka takut pada gelapmu. Jadilah malam yang lembut untuk mereka, seperti kau menjadi malam yang paling indah untukku."



​Nyx: (Menundukkan kepala, air matanya jatuh seperti meteor kecil) "Aku akan mencobanya... meski kurasa pelukanku akan terasa hambar tanpa aromamu."



​Adel: (Napasnya mulai memberat, matanya perlahan menutup) "Nyx... dengar. Di luar sana, matahari mulai mengintip. Warnanya oranye, seperti selai jeruk yang pernah kita makan di pasar manusia itu. Cantik, ya. "



​Nyx: (Memeluk Adel lebih erat, tidak berani melihat ke arah ufuk) "Aku tidak melihat matahari. Aku hanya melihatmu."



​Adel: (Berbisik sangat pelan) "Terima kasih... karena sudah menjadi malam yang paling manis... Tuan Nyx. Aku akan menunggumu di sisi lain, di mana tidak ada lagi siang atau malam... hanya ada kita."



​Nyx: "Adel? Adel!"



​(Hening. Hanya ada suara angin. Cahaya matahari pertama menyentuh balkon, dan di pelukan Nyx, Adel telah menjadi seringan debu cahaya yang perlahan menghilang bersama angin pagi.)



​Nyx: (Berdiri sendirian di bawah cahaya yang ia benci) "Tidurlah, Gadis Kecilku. Malam akan selalu datang kembali... dan aku akan menunggumu di setiap bayang-bayang yang tercipta."


1 januari 2026

๐๐ฒ๐ฑ ๐Š๐š๐ฅ๐š๐ฆ๐จ๐ฌ

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DARI AKU YANG HAMPIR MENYERAH

izinkan aku bahagia Karya Pengagum

Kamu Tidak Harus Menjadi Seseorang