Drama pendek Judul : Obrolan dini hari 01.00 wib._Karya : just V_*
Judul : Obrolan dini hari 01.00 wib.
📣 : sebuah obrolan ngelantur dari Mereka yang sedang nongkrong di teras rumah pada malam hari, lengkap dengan kopi dan gorengan yang sudah agak dingin.
*Bagas*: (_Sambil angkat tempe goreng_)
"Gue kepikiran deh.
Kenapa tempe kalau udah dingin, teksturnya jadi kayak penghapus sekolah ya? Keras tapi pasrah gitu."
*Fajar :*
- "Itu namanya evolusi, Gas. Tempe itu benda padat yang punya krisis identitas.
Kalau panas dia merasa jadi steak, kalau dingin dia sadar dia cuma kedelai yang dipaksa bersatu sama ragi."
*Rian:* (_Geleng-geleng_)
- "yailah, ....Random banget otak lo berdua. Tapi ngomongin soal 'dipaksa bersatu', gue kemarin baru baca lagi kisah Nabi Musa pas ketemu Nabi Khidir.
Itu benar-benar level kesabaran yang beda banget."
*Bagas:*
- "Oh, yang Nabi Musa nggak boleh nanya itu ya?
Yang perahunya dibocorin?"
*Rian:*
- "Iya. Bayangin, lo ikut orang sakti, terus dia ngelakuin hal yang menurut logika lo salah total.
Ngerusak perahu orang, ngebangun tembok di desa yang penduduknya pelit. Secara moral, kita pasti mau protes kan?"
Fajar:
- "Nah, itu dia poinnya, Yan.
Hidup kita tuh seringnya kayak gitu.
Kita cuma liat 'perahu yang bocor', tapi kita nggak tau kalau di depan ada raja yang mau ngerampas semua kapal yang bagus.
Kadang hal buruk itu sebenarnya 'tameng' buat bencana yang lebih gede."
Bagas: (_Terdiam sejenak, mukanya serius_)
- "Dalem juga ya... Berarti kalau motor gue kemarin mogok pas mau jemput gebetan, itu mungkin cara Tuhan nyelamatin gue dari... dari apa ya?"
Fajar:
- "Dari malu, Gas. Soalnya lo lupa pake deodoran kan pas itu?"
Bagas:
- "Sialan. Gue kira mau bahas takdir, ujung-ujungnya body shaming!"
Rian: (_Ketawa_)
- "Tapi bener kata Fajar. Ilmu manusia itu terbatas. Ibaratnya kita cuma liat satu titik di kanvas raksasa. Kita bilang 'ih kok titiknya item, jelek!', padahal kalau ditarik mundur, titik item itu bagian dari lukisan mata elang yang keren banget."
Fajar:
- "Ngomongin soal lukisan dan titik... lo pernah kepikir nggak kalau dunia kita ini sebenarnya cuma simulasi di dalam toples raksasa punya alien yang lagi praktikum biologi?"
Bagas:
- "Mulai deh... abstraknya keluar."
Fajar:
- "Enggak, dengerin dulu! Gimana kalau bintang-bintang di langit itu sebenarnya cuma lubang ventilasi di tutup toplesnya? Terus ujan itu sebenernya si alien lagi nyemprotin air pake spray biar kita nggak kering?"
Rian: (_Sambil nyeruput kopi_)
- "Teori lo mirip Simulation Hypothesis, Jar. Secara matematika, peluang kita hidup di realitas asli itu emang kecil banget kalau dibandingin sama kemungkinan kita hidup di simulasi yang dibuat peradaban maju."
Bagas:
- "Terus kalau emang ini simulasi, cara gue dapet cheat buat saldo ATM gimana? Minimal kode 'motherlode' kayak di game The Sims lah."
Rian:
- "Cheat-nya ya doa sama kerja keras, Gas. Tapi bedanya sama game, di sini lo nggak bisa restart kalau salah pilih dialog."
Fajar:
- "Atau jangan-jangan, mimpi kita pas tidur itu sebenarnya kita lagi pindah ke server lain? Makanya pas bangun kita sering lupa, soalnya datanya terlalu gede buat dibawa balik ke otak kita yang cuma kapasitas flashdisk kw ini."
Bagas:
- "Berarti pas gue mimpi dikejar hantu tapi kaki gue berasa berat banget buat lari, itu maksudnya koneksi internet gue lagi lag?"
Fajar:
- "Bisa jadi! Ping lo lagi tinggi, makanya gerakan lo patah-patah!"
Rian: (_Ketawa kenceng_)
- "Udah, udah. Makin ngaco. Tapi serius deh, mau itu takdir Nabi Khidir atau teori toples alien, intinya kan gimana kita jalanin hari ini sebaik mungkin. Mau simulasi atau bukan, rasa kopi ini tetep nyata paitnya."
Bagas:
- "Bener. Dan rasa laper gue juga nyata. Ini gorengan terakhir buat gue ya." (Langsung nyamber bakwan)
Fajar:
- "Eh! Itu bakwan hak asasi gue! Tadi lo udah makan tempe penghapus!"
Rian:
- "Nah, di situ keajaiban dunianya. Persahabatan kita tetep utuh, selama stok gorengan masih ada."
📢 : Lanjutannya, suasana makin malam, angin mulai agak dingin, tapi obrolan mereka justru makin "panas".
Fajar: (_Sambil ngunyah sisa remah bakwan_)
- "Eh, tapi Yan, balik lagi soal kisah Nabi tadi. Gue kepikiran satu hal yang lebih filosofis. Nabi Adam pas diturunin ke bumi, itu beliau ngerasa kesepian banget nggak ya? Maksud gue, bumi waktu itu kan masih... kosong. Belum ada starbucks, belum ada lampu merah."
Bagas:
- "Ya iyalah kesepian, Jar. Nggak ada grup WhatsApp buat sambat. Tapi kan ada Siti Hawa?"
Rian:
- "Masalahnya, mereka sempat dipisah lama kan pas diturunin ke bumi. Ada riwayat yang bilang mereka baru ketemu lagi di Jabal Rahmah. Bayangin, lo di planet yang asing, sendirian, nggak ada petunjuk arah Google Maps, cuma berbekal tobat dan harapan."
Fajar:
- "Nah! Itu dia! Gue rasa, itulah awal mula kenapa manusia itu makhluk yang hobi 'mencari'. Kita tuh dari dulu emang didesain buat nyari sesuatu yang hilang. Nyari pasangan, nyari jati diri, sampai nyari remote TV yang nyelip di sofa."
Bagas:
- "Gue lebih sering nyari korek sih. Kayak sekarang nih... mana korek gue?" (Ngeraba-raba kantong)
Rian: (_Ngeluarin korek dari saku, kasih ke Bagas_)
- "Nih. Tapi bener kata Fajar. Secara eksistensial, kita semua ini pengembara. Tapi lucu ya, kita sering merasa paling tau segalanya, padahal kalau dibandingin sama umur semesta, hidup kita itu nggak lebih lama dari durasi iklan YouTube yang nggak bisa di-skip."
Bagas: (_Sambil nyalain rokok/lilin_)
- "Iklan YouTube cuma 15 detik, Yan. Masa hidup kita sesingkat itu?"
Rian:
- "Secara kosmik, iya. 13,8 miliar tahun umur semesta, kita cuma hidup rata-rata 60-70 tahun. Itu kalau dihitung pake skala waktu galaksi, kita tuh cuma 'kedipan mata' yang belum selesai."
Fajar:
- "Makanya gue bilang, hidup ini abstrak! Bisa jadi kita ini sebenarnya cuma memori dari seseorang yang udah meninggal, yang lagi diputar ulang di otaknya dalam waktu satu detik sebelum dia bener-benar mati."
Bagas: (_Berhenti ngerokok, mukanya pucet_)
- "Jar... lo kalau ngomong suka bikin bulu kuduk gue berdiri deh. Kalau emang gue cuma memori, kenapa pas gue kesandung jempol kaki, sakitnya berasa sampai ke ubun-ubun?"
Fajar:
- "Ya karena memori itu harus detail, Gas! Biar otentik. Kayak lo nonton film 4K, lo harus ngerasain setiap emosinya."
Rian: (_Ketawa pelan_)
- "Tapi kalau dipikir-pikir, emang bener sih. Kita sering terlalu serius mikirin cicilan, mikirin gengsi, sampai lupa kalau kita ini cuma debu bintang yang kebetulan bisa ngomong dan minum kopi."
Bagas:
- "Debu bintang... keren juga sebutan gue. Daripada disebut 'pengangguran terhormat' sama emak gue."
Fajar:
- "Tapi serius, Yan. Kalau lo punya kesempatan nanya satu hal ke Nabi Khidir, atau ke 'Sistem' kalau dunia ini simulasi, lo mau nanya apa?"
Rian: (_Diem agak lama, mandang langit_)
- "Gue nggak mau nanya masa depan. Gue cuma mau nanya... 'Apakah saya sudah cukup menjadi manusia?' Karena jujur, makin ke sini, jadi 'manusia' itu makin susah. Banyak orang fisiknya manusia, tapi sistem operasinya udah kayak robot atau malah kayak binatang buas."
Bagas: (_Tiba-tiba bijak_)
- "Kalau gue sih simpel. Gue cuma mau nanya, 'Kenapa kabel headset selalu kusut pas ditaruh di kantong? Padahal gue nggak ngapa-ngapain'."
Fajar:
- "Yee! Itu mah bukan nanya ke Nabi Khidir, itu mah hukum fisika 'Murphy's Law'! Sesuatu yang bisa berantakan, pasti bakal berantakan."
Bagas:
- "Tuh kan! Hidup emang dirancang buat bikin kita pusing. Tapi ya sudahlah, mumpung masih di 'simulasi' ini, siapa yang mau pesen martabak? Gue yang bayar, tapi pake duit Rian."
Rian:
- "Sialan! Itu mah bukan simulasi, itu namanya penindasan!"
Fajar:
- "Hajar, Yan! Jangan kasih ampun debu bintang yang satu ini!"
📢 : _Suasana makin larut. Angin malam mulai menusuk tulang, tapi Bagas malah makin semangat setelah dapet "pencerahan" soal debu bintang tadi. Ia membetulkan posisi duduknya, mukanya mendadak misterius._
Bagas:
- "Ngomongin soal sistem yang diatur, kalian ngerasa nggak sih kalau dunia sekarang tuh makin aneh? Kayak... semua hal yang kita omongin sekarang, jangan-jangan besok langsung muncul iklannya di sosmed kita."
Fajar:
- "Itu mah bukan konspirasi lagi, Gas. Itu algoritma. Tapi yang lebih ngeri itu teorinya Dead Internet. Lo tau nggak? Katanya, sebagian besar interaksi di internet sekarang itu bukan manusia, tapi bot yang saling bales-balesan biar kita ngerasa dunia ini masih rame."
Rian: (_Menyipitkan mata_)
- "Terus maksud lo, jangan-jangan kita bertiga ini juga cuma bagian dari skenario biar 'pemegang kontrol' dapet data tentang cara manusia nongkrong?"
Bagas:
- "Nah! Dan lo tau siapa yang paling mencurigakan? Burung dara! Pernah nggak lo liat bayi burung dara di kota? Nggak pernah kan? Semuanya langsung gede. Gue yakin burung dara itu sebenarnya drone pengintai punya elit global. Mereka nge-charge di kabel listrik makanya mereka suka nangkring di sana."
Fajar: (_Ketawa ngakak_)
- "Teori klasik! Tapi kalau soal masa depan, gue punya ramalan yang lebih absurd. Gue ngerasa tahun 2050 nanti, manusia nggak bakal pake HP lagi. Kita bakal punya chip di otak, dan cara kita komunikasi itu lewat 'transfer perasaan'."
Rian:
- "Waduh, repot dong? Kalau lo lagi kesel sama bos, tapi lo harus tetep senyum, eh si bos malah dapet notifikasi di otaknya kalau lo lagi maki-maki dia dalam hati."
Fajar:
- "Persis! Dunia bakal jujur banget sampai akhirnya kita gila karena nggak punya privasi di kepala sendiri. Terus, karena pemanasan global, orang kaya bakal pindah ke kapal selam raksasa di bawah laut, sementara kita yang rakyat jelata ini disuruh bertahan hidup di daratan yang panasnya udah kayak simulasi neraka."
Bagas:
- "Ah, kalau gue sih optimis. Masa depan gue itu... gue bakal jadi pengusaha sukses di bidang yang belum ada sekarang. Kayak... jasa penyewaan memori indah buat orang-orang yang masa kecilnya suram."
Rian:
- "Itu mah Inception, Gas. Tapi serius, kalau kita ngomongin masa depan yang absurd, gue justru takut kalau manusia kehilangan kemampuan buat 'bosan'. Sekarang aja kita dikit-dikit buka HP. Ke depan, jangan-jangan rasa bosan itu dianggap penyakit mental, terus kita dipaksa bahagia terus lewat suntikan hormon."
Fajar:
- "Bener juga. Kayak di buku Brave New World. Bahagia tapi palsu. Tapi Yan, kalau emang konspirasi elit global itu beneran ada, dan mereka lagi nontonin kita lewat kamera HP sekarang... kira-kira mereka bosen nggak ya dengerin kita debat soal tempe sama alien?"
Bagas: (_Langsung ngadep ke kamera HP-nya yang tergeletak di meja_)
- "Halo Pak Elit Global! Tolong ya, kalau mau bikin tatanan dunia baru, cicilan motor gue masukin ke daftar yang dihapuskan dong. Biar tatanannya beneran baru dan bersih!"
Rian: (_Geleng-geleng_)
- "Ngarep lo ketinggian. Udah, mending kita pikirin masa depan yang lebih nyata: gimana cara kita pulang tanpa kedinginan karena jaket lo, Gas, dipake buat alas duduk dari tadi."
Fajar:
- "Masa depan itu misteri, konspirasi itu teka-teki, tapi perut laper itu... konspirasi lambung yang nggak bisa diajak kompromi. Yuk, cari mi tek-tek di depan!"
Bagas:
- "Gaspol! Siapa tau tukang mi tek-teknya juga intel yang lagi nyamar bawa walkie-talkie di balik kuali."
📢 : _Mereka bertiga mulai beranjak, merapikan gelas kopi yang tinggal ampas. Namun, saat Bagas dan Fajar sibuk mencari sandal masing-masing, suasana mendadak berubah sedikit dingin—bukan karena angin, tapi karena gelagat Rian._
Fajar:
- "Eh, denger nggak? Tadi kayak ada suara tit gitu dari arah lo, Yan?"
Rian: (_Diem sebentar, mukanya datar banget_)
- "Oh, itu... mungkin cuma notifikasi update sistem. Biasalah."
Bagas:
- "Update sistem HP maksud lo? Tapi HP lo kan mati dari tadi, baterainya habis."
Rian: (_Tersenyum tipis, tapi matanya nggak ikut senyum_)
- "Bukan sistem HP, Gas. Tapi sistem... koordinasi."
Fajar: (_Ketawa canggung_)
- "Wah, mulai deh. Jangan bilang lo beneran bagian dari konspirasi burung dara tadi. Lo intel ya? Atau agen elit global yang lagi riset kenapa cowok kalau nongkrong suka nggak jelas?"
Rian: (_Menghela napas, suaranya jadi lebih berat dan berwibawa_)
- "Kalian tau nggak kenapa gue selalu betah dengerin ocehan random kalian selama bertahun-tahun? Dari soal tempe, Nabi Khidir, sampai alien?"
Bagas:
- "Ya... karena kita sahabat?"
Rian:
- "Karena kalian adalah sampel yang sempurna. Manusia yang punya imajinasi liar tapi nggak punya daya untuk mengubah dunia. Kalian adalah 'noise' yang bikin sistem kami sulit diprediksi. Itulah kenapa kalian harus terus diawasi."
Fajar: (_Mundur satu langkah_)
- "Yan, lo jangan bercanda deh. Komedi lo nggak lucu kalau mukanya kaku gitu kayak robot mau reboot."
Rian: (_Tiba-tiba tangannya menyentuh belakang telinganya, ada kilatan cahaya biru kecil di balik kulitnya_)
- "Jadwal observasi malam ini selesai. Data tentang 'kegalauan pria dewasa di teras rumah' sudah terkirim ke server pusat di sektor 7."
Bagas:
- "Sumpah, Yan! Kalau ini prank, gue bakal banting gelas lo! Tapi... itu cahaya apa di leher lo?!"
Rian: (_Kembali berekspresi normal, lalu ketawa kencang sampai matanya berair_)
- "HAHAHA! Gila, muka lo berdua! Pucet banget kayak mayat kemaren sore! Berhasil kan akting gue?"
Fajar: (_Sambil megang dadanya_)
- "Sialan! Jantung gue mau copot, Yan! Itu tadi cahaya apa?!"
Rian:
- "Itu korek api elektrik yang gue tempelin ke leher pas gue pura-pura garuk-garuk tadi. Gue udah setting lampunya biar kelihatan sinematik. Kalian sih, bahas konspirasi terus, jadi gampang dipancing!"
Bagas: (_Napas lega sambil nabok bahu Rian_)
- "Kampret lo! Gue udah mau lari tadi, takut lo tiba-tiba berubah jadi reptil!"
Fajar:
- "Sumpah, gue hampir percaya kalau dunia ini simulasi dan lo adalah adminnya."
Rian: (_Sambil jalan duluan ke arah depan rumah_)
- "Siapa tahu emang bener, kan? Mungkin gue sengaja ngaku 'prank' biar kalian nggak curiga kalau gue beneran agen. Strategi paling ampuh buat nyembunyiin rahasia adalah dengan menjadikannya lelucon."
Bagas:
- "Udah, stop! Otak gue udah angus. Gue nggak mau denger teori lagi. Sekarang fokus ke mi tek-tek. Kalau abangnya juga punya lampu biru di leher, gue balik kanan, gue mau tidur aja!"
Fajar:
- "Eh, tungguin! Jar, jangan jauh-jauh dari gue! Kalau Rian tiba-tiba terbang, lo yang gue pegangin!"
📢 : _Sesampai mereka di ujung gang, tepat di bawah pohon besar yang daunnya rimbun menutupi lampu jalan. Suara denting wajan tukang mi tek-tek terdengar dari kejauhan, memberikan ritme yang menenangkan di tengah sunyinya malam_
Fajar: (_Sambil memandang bayangan mereka yang memanjang di aspal_)
- "Tapi serius deh, meskipun dunia ini simulasi, atau kita cuma debu bintang yang nggak sengaja bisa ngopi, gue bersyukur sih."
Bagas:
- "Bersyukur kenapa? Karena nggak jadi diculik Rian ke planet lain?"
Fajar:
- "Bukan. Bersyukur karena di tengah miliaran galaksi dan ribuan tahun sejarah manusia, kita bertiga bisa pas banget ada di sini, di waktu yang sama, ngebahas hal nggak penting sampai jam satu pagi. Probabilitasnya kecil banget, Gas."
Rian: (_Tersenyum tulus, kali ini tanpa maksud tersembunyi_)
- "Bener. Itu yang namanya The Beauty of Entropy. Di tengah ketidakteraturan semesta, ada momen-momen presisi kayak gini yang bikin hidup terasa punya makna. Bukan soal apa yang kita bahas, tapi sama siapa kita ngebahasnya."
Bagas: (_Berhenti jalan sejenak, mukanya mendadak melankolis_)
- "Kok kalian jadi puitis gini sih? Gue jadi ngerasa kayak di adegan terakhir film-film coming of age yang berakhir sedih karena pemerannya bakal pisah."
Rian:
- "Nggak bakal ada yang pisah, Gas. Selama lo masih berhutang bayarin martabak tadi, lo bakal terus gue pantau sampai ke ujung alam semesta."
Fajar:
- "Amin untuk itu. Masa depan emang absurd, Yan. Konspirasi mungkin nyata, takdir Nabi Khidir itu pelajaran abadi, tapi persahabatan... itu satu-satunya hal yang bikin 'simulasi' ini layak buat dijalanin."
Bagas:
- "Nah, itu baru penutupan yang keren. Udah, yuk! Tuh abangnya udah mau lewat. Bang! Mi tek-tek tiga! Pedesnya level akhir zaman ya!"
Rian: (_Sambil tertawa kecil mengikuti langkah kedua sahabatnya_)
- "Pedes level akhir zaman... Bagas, Bagas. Sampai kiamat pun lo bakal tetep jadi yang paling random di antara kita."
📢 : _dan akhirnya Mereka bertiga berjalan menjauh, suara tawa mereka perlahan tenggelam oleh suara malam. Di atas sana, bintang-bintang tetap bersinar diam, seolah-olah memang sedang mengawasi tiga manusia kecil yang baru saja menyelesaikan salah satu obrolan terpenting dalam hidup mereka—atau setidaknya, obrolan paling penting untuk malam itu._
*_4 januari 2026_*
*_Jakarta._*
*_Karya : just V_*
_Selesai._
Komentar
Posting Komentar