Judul: Sketsa di Balik Jendela Malam jejak pena

 Judul: Sketsa di Balik Jendela Malam



​Pena: 

"Masih terjaga, Del? Aku melihat lampu kamarmu masih menyala dari sini. Atau itu hanya perasaan aku saja yang ingin kamu tetap bangun?"



​Adel: (Menghela napas panjang, suaranya terdengar berat tapi lembut) 

"Lampu ini menyala, Pen. Tapi pikiranku sedang ada di tempat lain. Gelap sekali di sini, meskipun aku sudah menyalakan semua lampu di ruangan."



​Pena: 

"Ada apa? Suaramu terdengar seperti awan yang keberatan membawa air hujan. Terlalu penuh. Mau dibagikan sedikit bebannya?"



​Adel: 

"Aku hanya merasa... kehilangan arah. Tahu tidak rasanya seperti membaca buku yang halaman tengahnya hilang? Aku tahu awalnya, aku tahu tujuanku, tapi tiba-tiba aku tidak tahu bagaimana cara sampai ke sana. Semuanya terasa abu-abu."



​Pena: 

"Dunia memang seringkali lupa memberi kita peta, Del. Tapi ingat tidak, dulu kamu pernah bilang kalau warna abu-abu itu sebenarnya puitis? Dia tidak sepekat hitam, tapi tidak seberani putih. Mungkin sekarang kamu sedang berada di fase 'istirahat' itu."



​Adel: 

"Tapi istirahat ini terasa menyakitkan, Pen. Aku melihat orang lain berlari, sedangkan aku hanya diam memandangi sepatu yang talinya kusut. Aku merasa tertinggal. Manis sekali ya hidup mereka, setidaknya dari jauh. Kenapa aku harus merasa sesesak ini hanya untuk hal-hal yang bahkan belum terjadi?"



​Pena: 

"Itu namanya kecemasan, Del. Kamu sedang mencoba memecahkan teka-teki masa depan dengan kepingan masa lalu yang belum sembuh. Tapi coba lihat ke luar jendela sebentar. Pohon-pohon di luar sana, apakah mereka tampak buru-buru ingin menjadi tinggi? Tidak. Mereka hanya tumbuh, akar demi akar, dalam diam."



​Adel:

"Tapi pohon punya akar yang kuat, Pen. Sedangkan aku? Aku merasa seperti daun kering yang kalau ditiup angin sedikit saja, aku akan hancur atau hilang arah. Aku takut, Pen. Takut kalau usahaku selama ini ternyata hanya sia-sia."



​Pena: 

"Tidak ada usaha yang sia-sia, Adel. Bahkan jatuh pun adalah sebuah kemajuan, karena setidaknya kamu tahu di mana letak lubangnya. Kamu bilang kamu daun kering? Ingat, daun kering yang jatuh ke tanah pun akan menjadi nutrisi untuk kehidupan yang baru. Tidak ada bagian dari dirimu yang tidak berharga, bahkan saat kamu merasa paling rapuh sekalipun."



​Adel: (Terdiam cukup lama)

 "Kenapa kamu selalu punya kata-kata yang terdengar seperti selimut hangat? Padahal aku sedang ingin memeluk kesedihanku sendiri malam ini. Aku merasa sangat berantakan, Pen. Sangat tidak berbentuk."



​Pena: 

"Karena aku tidak ingin kamu kedinginan dalam sedihmu. Lagipula, tidak ada yang salah dengan sedih. Kesedihan itu seperti ampas kopi—pahit, tapi membuktikan bahwa pernah ada sesuatu yang kuat yang baru saja kita nikmati. Itu artinya kamu manusia, kamu punya rasa. Dan soal 'berantakan'... bukankah alam semesta juga tercipta dari ledakan yang berantakan?"



​Adel:

 "Kalau begitu, sampai kapan ampas ini harus ada di sana? Aku ingin rasa manisnya kembali. Aku ingin bangun pagi tanpa merasa ada beban yang menindih dadaku."



​Pena: 

"Sampai kamu selesai belajar dari rasa pahitnya. Malam ini, biar aku jadi pendengarmu. Ceritakan semua hal yang membuat hatimu penuh. Tentang mimpi yang tertunda, tentang lelah yang tidak dipahami, atau tentang rasa rindu pada dirimu yang dulu. Aku tidak akan memintamu untuk cepat-cepat sembuh. Menangislah kalau perlu, suaramu tidak akan membuat langit runtuh."



​Adel: 

"Terima kasih, Pen. Kadang aku hanya butuh seseorang yang tidak memaksaku untuk tersenyum saat aku ingin menangis. Kamu... kok bisa sesabar itu menghadapi aku yang berantakan begini? Apa kamu tidak bosan mendengar keluhanku?"



​Pena: 

"Mendengarmu adalah caraku belajar tentang hidup, Del. Karena dalam berantakanmu pun, kamu tetap terlihat indah di mataku. Seperti rasi bintang yang tidak beraturan, tapi tetap menuntun pelaut pulang. Aku tidak butuh kamu yang sempurna, aku hanya butuh kamu yang jujur pada dirimu sendiri."



​Adel:

 "Satu hal lagi, Pen... Apa besok akan lebih baik? Atau aku akan terbangun dengan lubang yang sama di hatiku?"



​Pena: 

"Aku tidak bisa menjanjikan pelangi instan, tapi aku janji untuk memayungimu kalau besok ternyata masih hujan. Kita akan berjalan pelan-pelan saja, ya? Satu langkah kecil setiap harinya. Sekarang, pejamkan matamu. Biarkan malam mengambil alih semua bising di kepalamu."



​Adel: 

"Terima kasih, Pen. Untuk tetap tinggal saat aku sendiri ingin pergi dari diriku sendiri."



​Pena:

 "Selalu, Del. Istirahatlah. Biar semesta yang menjaga mimpimu malam ini."


Probolinggo, 22 Desember 2025

Jejakpena

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DARI AKU YANG HAMPIR MENYERAH

izinkan aku bahagia Karya Pengagum

Kamu Tidak Harus Menjadi Seseorang