SEPUCUK SURAT DUKACITA DARI SEORANG SARJANA UNTUK IBUNYA
Karya: Arief Siddiq Razaan
Ibu, bila aku pergi tolong jangan pernah mencari sebab di frezer sudah kubekukan dua daun telinga yang sengaja kupotong untuk mendengar ceritamu
Berdongenglah, bu... tentang katak hendak jadi lembu, sebab itu lucu, seperti lucunya aku sebagai anak yang gagal menjadi kebanggaanmu
Ijazah hanya jadi penghias lemari, tiga tahun selepas wisuda hanya jadi pengangguran terdidik yang disuapi mimpi-mimpi, bahwa jika pantang menyerah, pasti hidup akan berubah, tetapi nyatanya tetap saja menjadi seonggok sampah
Bu, aku sudah capek, mentalku hancur sebab segala mimpi telah terkubur, jadi buat apa aku tetap di rumah, jika saban hari selalu saja dipandang rendah, dijadikan tempat pembuangan sumpah serapah?
Tapi aku paham, Bu... marahmu adalah cinta yang lebih luas dari samudra, tetapi aku hanya kolam kecil yang tak mampu menampung mata air air matamu yang kecewa melahirkanku ke dunia...
Kini aku memilih pergi, memunggungi kenyataan pahit, tanpa membawa apa pun kecuali kesiapan diri untuk mati di rantau orang...
Jika berkenan, tolong doakan saja aku bisa kembali dalam keadaan hidup-hidup dengan membawa hasil yang lebih baik, sehingga bisa menjahit telingaku kembali dengan utuh untuk mendengarkan petuahmu yang lebih teduh...
Bisa 'kan, Bu? mengabulkan permintaan kecil itu, supaya perjalananku tidak sia-sia meski pergi dalam keadaan terluka parah dan berdarah-darah
Jambi, 20 Mei 2026
Komentar
Posting Komentar