TOPENG PEMBANGUNAN: HAK ASASI MANUSIA YANG DITELAN TANAH


Karya: Mariaban
 
Mereka datang dengan senyum yang terukir rapi
Membawa peta yang berwarna-warni, tertulis rencana cemerlang
Mengumandangkan nama pembangunan sebagai suci
Sebagai alasan sah untuk mengambil, meroboh, dan menghancurkan
 
"Majulah!" seru mereka, suaranya bergema di udara
"Kemajuan!" teriak mereka, seolah tak ada yang salah
Namun di balik kata-kata yang manis dan teratur
Tersembunyi mata serakah, tangan yang haus akan milik
 
Gergaji mesin memecah keheningan hutan yang telah berusia ribuan tahun
Pohon-pohon raksasa yang menjadi penyangga kehidupan
Ditebang habis tanpa ampun, tanpa rasa kasihan
Seolah tanah ini bukan milik siapa-siapa, seolah tak punya hati
 
Hutan yang dulu hijau, sejuk, dan penuh kehidupan
Kini tinggal gundukan tanah, tumpukan batang kayu yang tak berguna
Sungai-sungai yang dulu jernih menjadi keruh dan beracun
Air yang dulu memberi minum, memberi makan, memberi hidup
Kini membawa lumpur dan debu, merusak ladang dan sumber mata air
Semua ini disebut sebagai langkah maju, sebagai tanda kemajuan
 
Tapi yang lebih kejam dari perusakan alam
Adalah cara mereka memperlakukan manusia yang tinggal di sini
 
Warga adat yang telah menjaga tanah ini sejak zaman nenek moyang
Diusir paksa dari rumah sendiri, diusir dari tanah kelahiran
"Untuk kepentingan umum," katanya, alasan yang selalu dipakai
Padahal yang dipakai hanyalah kepentingan segelintir orang berkuasa
 
Mereka yang berani bersuara, yang berani berkata jujur
Dicap sebagai pengganggu, sebagai penghambat kemajuan
Ditekan, dibungkam, bahkan dianiaya dengan cara yang kejam
Dor di kepala, Dor di jantung, Dor di kaki
Hak untuk berpendapat diambil paksa, kebebasan diikat rapat-rapat
 
Siapa yang berani menuntut hak, yang berani meminta keadilan
Akan dihadapi dengan kekuatan, dengan kekerasan, dengan ancaman
Hak asasi manusia? Kata-kata yang terdengar asing
Seolah di tanah ini hanya ada aturan kekuasaan, bukan aturan kemanusiaan
 
Mereka bilang ini akan membawa kesejahteraan untuk semua
Bahwa nanti akan ada jalan, sekolah, rumah sakit yang bagus
Tapi kenyataan di lapangan berkata sebaliknya
Hanya beton dan aspal yang tumbuh, tapi kesejahteraan tak pernah terasa
 
Jalan yang dibangun hanya untuk membawa keluar kekayaan alam
Sekolah yang ada hanya untuk anak orang-orang tertentu
Rumah sakit yang ada hanya untuk melayani kepentingan mereka
Sedangkan warga asli tinggal di gubuk-gubuk yang rusak
Sakit tak berobat, lapar tak terpenuhi, hak tak terpenuhi
 
Pembangunan ini seperti raksasa yang berjalan di atas tubuh manusia
Menginjak-injak martabat, menginjak-injak hak, menginjak-injak kehidupan
Setiap proyek yang dibangun, setiap bangunan yang berdiri kokoh
Dibangun di atas dasar air mata, luka, dan penderitaan rakyat
 
Apakah kemajuan harus dibayar dengan penderitaan?
Apakah pembangunan harus berjalan dengan mengorbankan manusia?
Mengapa nama pembangunan dijadikan tameng yang sempurna
Untuk melakukan segala hal yang salah, yang tidak adil, yang kejam?
 
Hak untuk hidup dengan layak, hak untuk memiliki tanah sendiri
Hak untuk berbicara, hak untuk dipandang sebagai manusia
Semua ini diambil paksa, diabaikan, dihancurkan
Di bawah nama pembangunan yang seharusnya membawa kebaikan
 
Tanah Papua yang indah, yang kaya, yang penuh makna
Kini menjadi saksi bisu dari ketidakadilan yang terus berlanjut
Saksi dari perusakan alam, saksi dari penindasan manusia
Yang semua disembunyikan di balik topeng pembangunan yang indah

Pesta Babi, Pesta Pembangunan, Pesta Kebiadaban
 
Sampai kapan ini akan berlanjut?
Sampai kapan hak asasi manusia akan ditindas?
Sampai kapan alam akan dirusak demi keuntungan segelintir?
Apakah kita harus menunggu sampai semuanya hilang
Baru kita sadar bahwa semua yang dilakukan adalah salah?
 
Pembangunan yang sejati bukanlah merusak dan menindas
Pembangunan yang sejati adalah menghormati alam dan menghargai manusia
Namun di sini, nama yang mulia dijadikan alat penipuan
Untuk mengambil hak orang lain, untuk menindas sesama
 
Ini bukan kemajuan, ini adalah perampasan
Ini bukan pembangunan, ini adalah perusakan
Ini bukan keadilan, ini adalah penindasan
Yang semua terjadi di tanah Papua, di bawah nama yang salah

Kalimantan selatan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DARI AKU YANG HAMPIR MENYERAH

izinkan aku bahagia Karya Pengagum

Kamu Tidak Harus Menjadi Seseorang