Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2026

Drama pendek Judul : Obrolan dini hari 01.00 wib._Karya : just V_*

 Judul : Obrolan dini hari 01.00 wib.  📣 : ‎sebuah obrolan ngelantur dari Mereka yang sedang nongkrong di teras rumah pada malam hari, lengkap dengan kopi dan gorengan yang sudah agak dingin. ‎ ‎ *‎Bagas*: (_Sambil angkat tempe goreng_)  ‎ ‎"Gue kepikiran deh. ‎ Kenapa tempe kalau udah dingin,  teksturnya jadi kayak penghapus sekolah ya? Keras tapi pasrah gitu." ‎ *‎Fajar :* ‎ - ‎ "Itu namanya evolusi, Gas. Tempe itu benda padat yang punya krisis identitas.   ‎Kalau panas dia merasa jadi steak, kalau dingin dia sadar dia cuma kedelai yang dipaksa bersatu sama ragi." ‎ *‎Rian:* (_Geleng-geleng_)  - ‎"yailah, ....Random banget otak lo berdua. Tapi ngomongin soal 'dipaksa bersatu', gue kemarin baru baca lagi kisah Nabi Musa pas ketemu Nabi Khidir. ‎ Itu benar-benar level kesabaran yang beda banget." ‎ *‎Bagas:* - "Oh, yang Nabi Musa nggak boleh nanya itu ya? ‎ Yang perahunya dibocorin?" ‎ ‎ *‎Rian:* -  "Iya. Bayangin, lo ikut orang sak...

​Di Bawah Langit yang Sama, Dengan Beban yang Berbeda karya jejak pena

 ​Di Bawah Langit yang Sama, Dengan Beban yang Berbeda ​Pena: (Sambil mengarahkan teropong kecil ke langit)  Lihat itu, Del. Bintang yang paling terang di sebelah sana... namanya Sirius. Dia seperti kau, selalu ingin jadi yang paling mencolok agar orang lain tidak tersesat dalam gelap. ​Adel: (Tersenyum lebar, matanya berbinar)  Wah, benarkah? Berarti aku punya kembaran di atas sana. Tapi Sirius tidak pernah capek, kan? Dia bersinar jutaan tahun tanpa mengeluh. ​Pena:  Mungkin dia mengeluh, tapi jaraknya terlalu jauh untuk kita dengar. Dia hanya punya satu tugas: bersinar. Sama seperti kau yang merasa punya tugas untuk selalu membuat orang di sekitarmu tertawa. Es krim tadi siang, kau bahkan memberikan milikmu pada anak kecil yang menangis itu padahal kau sendiri sangat menginginkannya. Kau hebat, Del. ​Adel: (Tertawa kecil, menyenggol lengan Pena)  Itu kan hal kecil, Pena. Melihat orang lain senang itu... entah kenapa, membuatku merasa berguna. Aku merasa tugas...

Dialog Menunggu Pagi yang Tak Kan Kita Temui karya 𝐍𝐲𝐱 𝐊𝐚𝐥𝐚𝐦𝐨𝐬

 Menunggu Pagi yang Tak Kan Kita Temui 𝐍𝐲𝐱 𝐊𝐚𝐥𝐚𝐦𝐨𝐬 ​Latar: Sebuah balkon kastel yang melayang di atas awan hitam. Jam pasir di atas meja menunjukkan butiran terakhir. Nyx berdiri kaku, sementara Adel bersandar di bahunya, terbalut selimut tebal. ​Nyx: (Suaranya berat, seperti guntur jauh) "Kau gemetar lagi, Adel. Harusnya aku tidak membawamu ke tepi cakrawala malam ini. Udara di sini terlalu dingin untuk paru-paru manusia." ​Adel: (Tersenyum tipis, merapatkan selimut) "Ini bukan karena dingin, Nyx. Ini karena aku sadar betapa luasnya dirimu, dan betapa kecilnya aku di dalam dekapanmu. Aku hanya mencoba merekam detak jantungmu sebelum... yah, sebelum semuanya menjadi sunyi." ​Nyx: "Jangan bicara soal kesunyian. Aku telah hidup dalam sunyi selama ribuan tahun sebelum kau datang membawa kebisingan kecil yang merepotkan itu. Aku bisa saja menghentikan waktu sekarang juga. Mengunci detik ini agar kau tetap bernapas di sampingku." ​Adel: "Tapi kau...

Dialog Judul: Di Balik Jendela dan Terang Matahari karya jejak pena

 ​Judul: Di Balik Jendela dan Terang Matahari ​Adel: (Sambil memegang pulpen Pena)  "Pen, kamu tahu nggak? Kalau hidung kamu ditekan gini, kamu jadi mirip banget sama lumba-lumba yang lagi minta makan. Hahaha!" ​Pena: (sambil tertawa)  "Wah, mulai ya! Kamu tuh ya, udah dikasih cokelat hangat, bukannya berterima kasih malah menghina hidung penyelamat kamu ini. Sini balikin pulpennya, Adel!" ​Adel: (Berlari menjauhkan pulpen)  "Nggak mau! Ini tawanan aku. Kalau mau pulpen ini balik, kamu harus janji nggak bakal panggil aku 'Si Tukang Ngantuk' lagi di depan umum!" ​Pena: (Berhasil menangkap pulpennya sambil tertawa) "Hahaha, Oke, oke! Janji! Kamu bukan Si Tukang Ngantuk, tapi 'Tuan Putri Tidur'. Gimana? Lebih keren kan?" ​Adel: (Tertawa lepas)  "hahaha, Sama aja, Pena! Kamu emang nggak pernah mau kalah ya!" ​Pena: (Tawanya mereda)  "Tapi serius, Del... aku suka banget lihat kamu ketawa kayak gini. Rasanya kayak semua k...

Judul: Sketsa di Balik Jendela Malam jejak pena

 Judul: Sketsa di Balik Jendela Malam ​Pena:  "Masih terjaga, Del? Aku melihat lampu kamarmu masih menyala dari sini. Atau itu hanya perasaan aku saja yang ingin kamu tetap bangun?" ​Adel: (Menghela napas panjang, suaranya terdengar berat tapi lembut)  "Lampu ini menyala, Pen. Tapi pikiranku sedang ada di tempat lain. Gelap sekali di sini, meskipun aku sudah menyalakan semua lampu di ruangan." ​Pena:  "Ada apa? Suaramu terdengar seperti awan yang keberatan membawa air hujan. Terlalu penuh. Mau dibagikan sedikit bebannya?" ​Adel:  "Aku hanya merasa... kehilangan arah. Tahu tidak rasanya seperti membaca buku yang halaman tengahnya hilang? Aku tahu awalnya, aku tahu tujuanku, tapi tiba-tiba aku tidak tahu bagaimana cara sampai ke sana. Semuanya terasa abu-abu." ​Pena:  "Dunia memang seringkali lupa memberi kita peta, Del. Tapi ingat tidak, dulu kamu pernah bilang kalau warna abu-abu itu sebenarnya puitis? Dia tidak sepekat hitam, tapi tidak seb...